-->
Telusuri
24 C
id
Katolik Terkini
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • Sosok
  • Humaniora
    • Humaniora
  • Refleksi
  • Lifestyle
  • Travelling
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
Katolik Terkini
Telusuri
Beranda Berita Humaniora Nasional Refleksi Sosok Seribu Lilin, Seribu Tanda Tanya: Umat Menuntut Vatikan Lakukan Investigasi Independen atas Mundurnya Uskup Paskalis
Berita Humaniora Nasional Refleksi Sosok

Seribu Lilin, Seribu Tanda Tanya: Umat Menuntut Vatikan Lakukan Investigasi Independen atas Mundurnya Uskup Paskalis

Katolik terkini
Katolik terkini
10 Feb, 2026 1 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Ratusan umat Katolik dari berbagai wilayah di Jabodetabek menggelar Aksi Seribu Lilin dan Doa di depan Nunciatura Apostolik (Kedutaan Besar Vatikan) pada Sabtu (10/2/2016) di Jakarta.

Jakarta - Katolik Terkini - Ratusan umat Katolik dari berbagai wilayah di Jabodetabek menggelar Aksi Seribu Lilin dan Doa di depan Nunsiatura Apostolik (Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia), Sabtu sore (10/2/2026), sebagai ekspresi solidaritas terhadap Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, Uskup Bogor yang mengundurkan diri di tengah pusaran kontroversi dan proses internal Gereja yang dinilai tertutup.

Aksi ini berlangsung hanya beberapa pekan setelah Mgr. Paskalis menyatakan pengunduran dirinya pada 19 Januari 2026, dan kemudian kembali ke Rumah Persaudaraan OFM pada 7 Februari 2026. Meski dikemas sebagai peristiwa iman dan doa, aksi ini sesungguhnya menyuarakan kegelisahan mendalam umat terhadap proses internal Gereja yang dinilai gelap, tertutup, dan menyisakan terlalu banyak tanda tanya.

Peristiwa Iman atau Alarm Institusional?

Menjelang senja, ratusan lilin dinyalakan. Suasana hening itu dipecah oleh orasi reflektif namun kritis bertajuk Cahaya Kebenaran yang disampaikan oleh Yustinus Prastowo. Ia menegaskan bahwa kehadiran umat bukan dalam kerangka perlawanan terbuka, tetapi juga bukan kepatuhan membisu.

“Kita berkumpul bukan sebagai massa yang menuntut, bukan pula sebagai hakim yang mengadili, melainkan sebagai umat beriman yang membawa lilin,” ujar Prastowo.

“Lilin adalah simbol terang yang memungkinkan umat saling melihat dengan jernih.”

Namun di balik simbol itu, pesan yang disampaikan jauh dari lembut. Prastowo menyebut pengunduran diri seorang uskup bukan sekadar rotasi administratif.

“Ini bukan peristiwa biasa yang berlalu setelah tidur malam. Ini peristiwa iman yang merobek rasa aman pastoral dan mengguncang kolektivitas umat,” katanya.

Pernyataan tersebut mencerminkan kegelisahan umat yang hadir. Banyak dari mereka menilai proses yang berujung pada pengunduran diri Mgr. Paskalis menyisakan terlalu banyak ruang gelap dan terlalu sedikit penjelasan.

Umat yang hadir dalam aksi seribu lilin sebagai solidaritas kepada Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM di depan Kedutaan Besar Vatikan

Tekanan yang Diakui, tetapi Tak Dijelaskan

Dalam pernyataan resminya saat mengundurkan diri, Mgr. Paskalis menyatakan menerima keputusan Paus Leo XIV dan menanggalkan jabatannya “dengan kebebasan hati.” Namun ia juga secara terbuka mengakui adanya tekanan.

“Saya menerima keputusan dari Paus Leo XIV dan tentu saja menanggalkan jabatan sebagai Uskup. Bukan dengan rasa kehilangan, melainkan dengan kebebasan hati. Meski ada tekanan dan situasi sulit yang mengikutinya,” ujar Mgr. Paskalis.

Pengakuan ini justru memunculkan pertanyaan mendasar: tekanan seperti apa yang dialami seorang uskup hingga memilih mengundurkan diri? Dari siapa tekanan itu datang? Dan apakah tekanan tersebut sejalan dengan prinsip keadilan dan martabat manusia yang dijunjung Gereja?

Hingga kini, tidak ada penjelasan resmi yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Surat Tuduhan, Visitasi Apostolik, dan Senyapnya Hasil Pemeriksaan

Sebelum pengunduran diri, beredar sebuah surat berisi tuduhan terhadap Mgr. Paskalis yang viral di media sosial. Menyusul kegaduhan tersebut, Takhta Suci menunjuk seorang Visitator Apostolik untuk melakukan pemeriksaan.

Namun, hingga aksi ini digelar, hasil visitasi tidak pernah dipublikasikan secara terbuka. Tidak ada penjelasan resmi mengenai temuan, klarifikasi, atau kesimpulan pemeriksaan. Yang diketahui publik hanyalah satu hal: Mgr. Paskalis mengundurkan diri.

Bagi umat, urutan peristiwa ini menimbulkan kesan bahwa keputusan telah diambil tanpa akuntabilitas yang memadai.

“Dari titik inilah kami mempertanyakan dengan sungguh-sungguh: apakah Mgr. Paskalis sudah mendapatkan perlakuan yang benar, adil, dan bermartabat?” demikian pernyataan tertulis panitia aksi.

Kritik terhadap Klerikalisme dan Birokrasi Gereja

Dalam orasinya, Prastowo menempatkan kasus ini dalam konteks yang lebih luas, yakni problem struktural dalam tubuh Gereja.

“Konflik bukan hal baru dalam Gereja. Gereja bertahan bukan karena konflik disembunyikan, tetapi karena ditangani dalam terang, bukan dalam bayang-bayang prasangka dan desas-desus,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa Gereja bukan hanya Tubuh Kristus, tetapi juga sebuah institusi dengan mekanisme birokrasi yang berisiko menyimpang bila tidak diawasi.

“Gereja memang tubuh Kristus, tetapi juga institusi dengan birokrasi yang, tanpa keterbukaan, mudah memakan putra-putrinya sendiri.”

Mengutip St. Bernardus dari Clairvaux, Prastowo menyatakan, Melius est ut scandalum oriatur, quam ut veritas relinquatur, lebih baik skandal muncul daripada kebenaran dikhianati.

Ia juga menolak keras narasi yang memposisikan persoalan ini sebagai konflik umat melawan hierarki.

“Gereja dibangun bukan di atas ketakutan, melainkan di atas kebenaran yang membebaskan,” katanya, seraya mengkritik klerikalisme sebagai “dosa struktural” yang berulang kali dikecam Paus Fransiskus.

Ratusan umat berdiri di depan Kedutaan Vatikan sambil memegang spanduk bertulisan "We stand with Mgr. Paskalis!!!"

Tuntutan Investigasi Independen

Sebagai tindak lanjut konkret, kelompok “Solidaritas Umat untuk Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM” menyampaikan satu tuntutan utama: mendesak Takhta Suci Vatikan membentuk tim investigasi independen dan imparsial untuk meninjau ulang seluruh proses, sejak munculnya tuduhan, pelaksanaan visitasi apostolik, hingga keputusan pengunduran diri.

“Aksi seribu lilin ini adalah lonceng bagi Gereja Sinodal di Indonesia. Kita tidak melawan otoritas; kita ingin berjalan bersama sebagai satu Umat Allah. Kita butuh tahu, karena kita mencintai,” kata Prastowo.

Ia menegaskan bahwa tujuan akhir aksi ini bukanlah perpecahan, melainkan rekonsiliasi yang berlandaskan kebenaran.

“Dalam Kristus, tidak ada lagi sekat. kita semua adalah Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik.”

Sikap Resmi Masih Ditunggu

Hingga berita ini diturunkan, Nunsiatura Apostolik dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) belum memberikan tanggapan resmi terkait tuntutan investigasi independen maupun pertanyaan publik seputar proses pengunduran diri Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM.

Keheningan ini justru memperkuat satu hal; bagi umat yang berkumpul dengan lilin di tangan, persoalan ini belum selesai. Dan mereka menolak untuk membiarkannya terkubur dalam senyap birokrasi gereja.(AD)

Via Berita
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

1 komentar

  1. Anonim13 Februari 2026 pukul 01.30

    Aksi 1000 lilin yang dilakukan umat Katolik jelas merupakan simbol keresahan dan tuntutan moral terhadap sikap KWI. Dalam konteks ini, kritik tajam perlu diarahkan pada kelemahan komunikasi dan transparansi KWI. Gereja sebagai institusi moral seharusnya menjadi teladan keterbukaan, namun dalam kasus pengunduran diri Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM, KWI justru terlihat pasif dan minim penjelasan. Akibatnya, umat merasa diabaikan dan memilih mengekspresikan suara mereka melalui aksi simbolik. KWI tidak bisa terus berdiam diri di tengah keresahan umat; aksi lilin bukan sekadar doa, melainkan protes moral yang menuntut kejelasan. Jika KWI gagal merespons dengan sikap terbuka dan melibatkan umat, maka yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi institusi, tetapi juga kepercayaan umat yang menjadi fondasi Gereja itu sendiri. Diamnya KWI hanya akan memperkuat persepsi bahwa hierarki Gereja tidak peka terhadap aspirasi umat, dan hal ini berisiko mengikis kredibilitas serta wibawa Gereja di mata publik. By. Nico

    BalasHapus
    Balasan
      Balas
Tambahkan komentar
Muat yang lain...

Media Sosial

facebook Like
twitter Follow
youtube Langganan
instagram Follow

Featured Post

Sempat Diragukan, Tablo OMK Paroki Santo Yoseph Palembang Justru Tampil Memukau di Jumat Agung

Katolik terkini- April 03, 2026 0
Sempat Diragukan, Tablo OMK Paroki Santo Yoseph Palembang Justru Tampil Memukau di Jumat Agung
OMK Paroki Santo Yoseph Palembang Gelar Tablo Jumat Agung pada Jumat (3/4/2026) pukul 09.00 WIB Katolik Terkini - Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Yoseph…

Most Popular

Karya Pertama dari Indonesia, Patung Yusuf Arimatea Dipersembahkan kepada Paus Leo XIV di Vatikan

Karya Pertama dari Indonesia, Patung Yusuf Arimatea Dipersembahkan kepada Paus Leo XIV di Vatikan

Maret 30, 2026
Rabu Suci: Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan yang Sunyi

Rabu Suci: Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan yang Sunyi

April 01, 2026
Momen Istimewa Minggu Palma di Werang, Dipimpin Langsung oleh Uskup Labuan Bajo

Momen Istimewa Minggu Palma di Werang, Dipimpin Langsung oleh Uskup Labuan Bajo

Maret 30, 2026
Gereja yang Hadir dan Peduli: Kunjungan Pastoral Uskup Labuan Bajo ke Rumah Shelter

Gereja yang Hadir dan Peduli: Kunjungan Pastoral Uskup Labuan Bajo ke Rumah Shelter

Maret 30, 2026

Editor Post

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

April 12, 2025
Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Januari 20, 2026
Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

April 11, 2025
Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Januari 19, 2026

Popular Post

Karya Pertama dari Indonesia, Patung Yusuf Arimatea Dipersembahkan kepada Paus Leo XIV di Vatikan

Karya Pertama dari Indonesia, Patung Yusuf Arimatea Dipersembahkan kepada Paus Leo XIV di Vatikan

Maret 30, 2026
Rabu Suci: Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan yang Sunyi

Rabu Suci: Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan yang Sunyi

April 01, 2026
Momen Istimewa Minggu Palma di Werang, Dipimpin Langsung oleh Uskup Labuan Bajo

Momen Istimewa Minggu Palma di Werang, Dipimpin Langsung oleh Uskup Labuan Bajo

Maret 30, 2026
Gereja yang Hadir dan Peduli: Kunjungan Pastoral Uskup Labuan Bajo ke Rumah Shelter

Gereja yang Hadir dan Peduli: Kunjungan Pastoral Uskup Labuan Bajo ke Rumah Shelter

Maret 30, 2026

Populart Categoris

  • Berita861
  • Cerpen7
  • Doa81
  • Film18
  • Filsafat9
  • Internasional356
  • Jelajah115
  • Lifestyle201
  • Nasional131
  • Pelayanan Sosial121
  • Puisi2
  • Refleksi354
  • Sosok312
  • Teologi68
Katolik Terkini

Tentang Kami

Katolik Terkini adalah platform berita online independen yang memiliki komitmen kuat untuk menyajikan informasi, berita, dan data seputar Gereja Katolik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kontak kami: katolikterkini@gmail.com

Follow Us

© KATOLIK TERKINI oleh Katolik Terkini
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Daftar Isi Katolik Terkini