Kisah Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah yang Ditawari Studi ke Roma oleh Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM
![]() |
| Deni Iskandar dan Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM (sumber foto dari Instagram pribadi Deni Iskandar) |
Jakarta - Katolik Terkini - Dalam perjumpaan dengan Katolik Terkini, Deni Iskandar, mahasiswa Magister di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, membagikan kisah perjumpaan dan kedekatannya dengan Paskalis Bruno Syukur OFM yang telah terjalin sejak beberapa tahun lalu.
Mahasiswa yang mendalami studi agama-agama di Fakultas Ushuluddin itu mengisahkan, pertemuan pertamanya dengan Mgr Paskalis terjadi pada akhir tahun 2018 dalam sebuah agenda penelitian.
“Saya berjumpa dengan Bapa Uskup di kisaran akhir tahun 2018. Waktu itu dalam rangka penelitian tentang esai-esai saya,” ujar Deni.
Sejak perjumpaan tersebut, keduanya membangun komunikasi yang intens dan harmonis. Hubungan itu semakin erat ketika pada 11 Juni 2019, Mgr. Paskalis mengunjungi Pondok Pesantren Raudlatul Ulum yang dipimpin oleh Abuya Kiai Haji Ahmad Muhtadi.
“Beliau bersilaturahmi, berdialog, saling tegur sapa dengan Abuya. Dari situ saya terus berkomunikasi secara intens dengan beliau,” ungkapnya.
Ditawari Studi ke Roma
Dalam salah satu pertemuan di pondok pesantren tersebut, Deni mengaku mendapat tawaran tak terduga dari Mgr. Paskalis untuk melanjutkan studi ke Roma.
“Bapa Monsinyur waktu itu menawari saya untuk belajar ke Roma. Awalnya saya anggap biasa saja karena merasa bukan siapa-siapa. Tapi setelah obrolan panjang, ternyata itu benar. Dan akhirnya saya berangkat,” tuturnya penuh semangat.
Tawaran tersebut membawanya menempuh pendidikan di Vatikan melalui beasiswa dari Nostra Aetate Foundation, Dikasteri untuk Dialog Lintas Agama.
Di sana, Deni mendalami studi dialog lintas agama dalam perspektif Gereja Katolik. Ia mempelajari berbagai ensiklik dan dokumen Gereja, termasuk dokumen-dokumen dari Paus Yohanes Paulus II yang menekankan pentingnya dialog antaragama.
“Saya belajar tentang dialog, baik dialog eksternal Gereja Katolik dengan agama lain maupun dialog internal dalam Gereja. Saya juga mendalami dokumen Nostra Aetate dan Dignitatis Humanae, serta ajaran sosial Gereja,” jelasnya.
Menurut Deni, pengalaman studi tersebut semakin mempererat hubungan emosionalnya dengan Mgr. Paskalis. Komunikasi keduanya terjalin rutin, baik melalui pesan singkat maupun telepon.
“Kadang dua minggu sekali, kadang sebulan atau seminggu sekali kami bertegur sapa lewat WA atau telepon,” katanya.
Sebagai seorang Muslim yang menempuh studi agama-agama, Deni mengaku merasakan ketulusan dan sikap terbuka dari Mgr. Paskalis.
“Bagi saya, beliau itu orang baik, humble, mengayomi. Saya yang bukan Katolik pun merasa diayomi oleh beliau,” ujarnya.
Ia bahkan menyebut hubungan mereka tidak pernah diwarnai perdebatan teologis.
“Kalau saya dengan beliau itu tidak pernah bicara agama. Tidak pernah. Lebih banyak bicara tentang kehidupan,” tambahnya.
Tanggapannya atas Pengunduran Diri Mgr Paskalis
Ketika dimintai tanggapan mengenai pengunduran diri Mgr. Paskalis, Deni mengaku terkejut dan memilih tidak berkomentar banyak.
“Saya terus terang kaget. Bahkan sebelumnya saya tahu beliau menjadi Kardinal. Tiba-tiba mengundurkan diri. Saya kurang tahu itu kan masalah internal Gereja,” ujarnya.
Ia mengaku sempat menghubungi Mgr. Paskalis melalui pesan singkat dan menerima jawaban langsung darinya. Namun, Deni menegaskan bahwa ia tidak ingin mencampuri urusan internal Gereja Katolik.
Terkait berbagai pemberitaan negatif yang beredar di media sosial, Deni menyatakan dirinya tidak mempercayainya.
“Saya tidak percaya. Karena setahu saya beliau sosoknya humble, mengayomi, baik sekali,” tegasnya.
Bagi Deni, status jabatan bukanlah hal utama. Ia tetap memandang Mgr. Paskalis sebagai figur orang tua dan pembimbing dalam hidupnya.
“Mau jadi Uskup atau tidak jadi Uskup, beliau bagi saya sudah saya anggap sebagai orang tua saya, sebagai Bapa saya,” katanya.
Ia bahkan berencana menjenguk Mgr. Paskalis di Kramat setelah bapa uskup kembali dari luar negeri.
“Beliau tetap orang tua saya, Bapa angkat saya,” tutupnya.(AD)

Posting Komentar