Menolak Menjadi Bagian dari Sistem yang Membungkam
Oleh: Alexander Philiph Sitinjak
(Penulis adalah umat Paroki St. Paulus Depok, Keuskupan Bogor; Departemen Politik & Hubungan Antar Lembaga, Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik; serta Ketua Bidang Lintas Iman dan Budaya Perkumpulan Alumni PMKRI)
Katolik Terkini - “Lip lu cerewet banget. Bawel. Kritis. Nggak takut mati?” Kalimat itu terlalu sering saya dengar setiap kali saya bersikap kritis terhadap Gereja Katolik, terutama ketika Gereja memilih lebih banyak diam dalam situasi kebangsaan yang genting, dan ketika persoalan internal yang menimpa Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM menjadi sorotan publik.
Saya tidak sedang mencari panggung. Saya tidak sedang membangun citra. Saya hanya menolak menjadi bagian dari barisan yang memilih diam demi stabilitas semu, lalu sibuk berbisik dan mempergunjingkan di belakang. Diam seperti itu bukan kebijaksanaan. Itu kemunafikan yang dibungkus kesalehan.
Beberapa kali saya diajak “ngopi”. Beberapa kali pula ada yang mencoba “menitipkan” sesuatu, jumlah yang cukup untuk mengganti mobil sederhana saya. Bahasa tubuhnya halus, maksudnya jelas: suara yang terlalu keras sebaiknya dilunakkan. Kritik sebaiknya dinegosiasikan.
Tetapi saya belajar satu hal: ketika suara dibungkam oleh amplop, yang mati bukan hanya integritas, melainkan juga nurani. Dan ketika nurani mati, iman tinggal formalitas.
Kritik yang saya sampaikan lahir dari kecintaan. Cinta pada Gereja yang saya imani. Cinta pada bangsa ini. Cinta pada mereka yang tak punya ruang untuk bersuara. Namun cinta yang sejati tidak membiarkan kebusukan tumbuh tanpa ditegur. Cinta yang dewasa berani mengatakan: ada yang salah, dan ini harus diperbaiki.
Saya gelisah melihat luka-luka ekologis yang makin menganga: hutan dibabat, sungai diracuni, tanah dirampas atas nama pembangunan. Kita berbicara tentang doa dan devosi, tetapi membiarkan kerakusan merajalela.
Kita mengutip ensiklik Laudato Si' karya Paus Fransiskus, yang mengingatkan bahwa bumi, rumah kita bersama, telah berubah menjadi “tumpukan sampah yang sangat besar.” Namun apakah kita sungguh mendengar jerit ciptaan? Atau kita hanya menjadikannya bahan seminar dan konten rohani?
Saya juga gelisah melihat kebijakan yang tak berpihak pada martabat manusia, pemiskinan struktural yang dibungkus istilah teknokratis agar tampak netral dan rasional. Ketimpangan direduksi menjadi angka statistik, bukan penderitaan nyata.
Padahal Santo Yohanes Krisostomus pernah mengingatkan dengan keras: tidak membagikan milik kita kepada orang miskin berarti merampas dan mencuri dari mereka. Injil memang tidak pernah lunak terhadap ketidakadilan. Yang lunak biasanya hanya kepentingan kita.
Saya gelisah ketika intoleransi dibiarkan tumbuh dengan alasan menjaga harmoni. Harmoni tanpa keadilan hanyalah kesunyian yang dipaksakan. Dan kegelisahan itu juga saya arahkan ke dalam Gereja yang saya cintai.
Gereja tidak dipanggil untuk aman. Gereja dipanggil untuk profetis.
Ketika Gereja terlalu dekat dengan kekuasaan hingga kehilangan jarak kritisnya, ketika suara kenabian dilemahkan demi relasi yang nyaman, saat itulah kita perlu bercermin.
Santo Oscar Romero pernah berkata: “A Church that does not provoke any crises, a Gospel that does not unsettle, a Word of God that does not disturb the sinner, what Gospel is that?” (Gereja yang tidak menimbulkan krisis, Injil yang tidak mengguncang, Sabda Allah yang tidak mengusik pendosa, Injil macam apa itu?) Jika Injil tak lagi membuat kita terusik, mungkin yang bermasalah bukan dunia, melainkan kita sendiri.
Apakah saya takut mati? Tentu. Saya manusia biasa, bukan martir. Tetapi saya percaya pada seruan Santa Katarina dari Siena: "Speak the truth in a million voices. It is silence that kills” (berbicaralah kebenaran dalam sejuta suara; yang membunuh adalah keheningan).
Diamlah yang membunuh; perlahan, tanpa terasa, tetapi pasti.
Segala sesuatu memang harus diperhitungkan. Risiko harus dicegah. Konsekuensi harus disadari. Keberanian bukan nekat. Keberanian adalah kesetiaan pada nurani setelah semua hitung-hitungan selesai.
Saya tidak bersuara karena merasa paling benar. Saya bersuara karena saya tidak ingin menjadi bagian dari sistem yang membiarkan ketidakadilan berlangsung sambil tetap berdoa dengan tenang. Jika kritik dianggap ancaman, mungkin yang terganggu bukan kata-kata saya, melainkan kenyamanan yang terusik.
Dan jika suatu hari saya kembali ditanya, “Takut mati?”
Saya akan menjawab: saya lebih takut kehilangan nurani daripada kehilangan kenyamanan.

Posting Komentar