-->
Telusuri
24 C
id
Katolik Terkini
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • Sosok
  • Humaniora
    • Humaniora
  • Refleksi
  • Lifestyle
  • Travelling
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
Katolik Terkini
Telusuri
Beranda Artikel Berita Humaniora Refleksi Menolak Menjadi Bagian dari Sistem yang Membungkam
Artikel Berita Humaniora Refleksi

Menolak Menjadi Bagian dari Sistem yang Membungkam

Katolik terkini
Katolik terkini
16 Feb, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Oleh: Alexander Philiph Sitinjak

(Penulis adalah umat Paroki St. Paulus Depok, Keuskupan Bogor; Departemen Politik & Hubungan Antar Lembaga, Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik; serta Ketua Bidang Lintas Iman dan Budaya Perkumpulan Alumni PMKRI)

Katolik Terkini - “Lip lu cerewet banget. Bawel. Kritis. Nggak takut mati?” Kalimat itu terlalu sering saya dengar setiap kali saya bersikap kritis terhadap Gereja Katolik, terutama ketika Gereja memilih lebih banyak diam dalam situasi kebangsaan yang genting, dan ketika persoalan internal yang menimpa Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM menjadi sorotan publik.

Saya tidak sedang mencari panggung. Saya tidak sedang membangun citra. Saya hanya menolak menjadi bagian dari barisan yang memilih diam demi stabilitas semu, lalu sibuk berbisik dan mempergunjingkan di belakang. Diam seperti itu bukan kebijaksanaan. Itu kemunafikan yang dibungkus kesalehan.

Beberapa kali saya diajak “ngopi”. Beberapa kali pula ada yang mencoba “menitipkan” sesuatu, jumlah yang cukup untuk mengganti mobil sederhana saya. Bahasa tubuhnya halus, maksudnya jelas: suara yang terlalu keras sebaiknya dilunakkan. Kritik sebaiknya dinegosiasikan.

Tetapi saya belajar satu hal: ketika suara dibungkam oleh amplop, yang mati bukan hanya integritas, melainkan juga nurani. Dan ketika nurani mati, iman tinggal formalitas.

Kritik yang saya sampaikan lahir dari kecintaan. Cinta pada Gereja yang saya imani. Cinta pada bangsa ini. Cinta pada mereka yang tak punya ruang untuk bersuara. Namun cinta yang sejati tidak membiarkan kebusukan tumbuh tanpa ditegur. Cinta yang dewasa berani mengatakan: ada yang salah, dan ini harus diperbaiki.

Saya gelisah melihat luka-luka ekologis yang makin menganga: hutan dibabat, sungai diracuni, tanah dirampas atas nama pembangunan. Kita berbicara tentang doa dan devosi, tetapi membiarkan kerakusan merajalela. 

Kita mengutip ensiklik Laudato Si' karya Paus Fransiskus, yang mengingatkan bahwa bumi, rumah kita bersama, telah berubah menjadi “tumpukan sampah yang sangat besar.” Namun apakah kita sungguh mendengar jerit ciptaan? Atau kita hanya menjadikannya bahan seminar dan konten rohani?

Saya juga gelisah melihat kebijakan yang tak berpihak pada martabat manusia, pemiskinan struktural yang dibungkus istilah teknokratis agar tampak netral dan rasional. Ketimpangan direduksi menjadi angka statistik, bukan penderitaan nyata.

Padahal Santo Yohanes Krisostomus pernah mengingatkan dengan keras: tidak membagikan milik kita kepada orang miskin berarti merampas dan mencuri dari mereka. Injil memang tidak pernah lunak terhadap ketidakadilan. Yang lunak biasanya hanya kepentingan kita.

Saya gelisah ketika intoleransi dibiarkan tumbuh dengan alasan menjaga harmoni. Harmoni tanpa keadilan hanyalah kesunyian yang dipaksakan. Dan kegelisahan itu juga saya arahkan ke dalam Gereja yang saya cintai.

Gereja tidak dipanggil untuk aman. Gereja dipanggil untuk profetis.

Ketika Gereja terlalu dekat dengan kekuasaan hingga kehilangan jarak kritisnya, ketika suara kenabian dilemahkan demi relasi yang nyaman, saat itulah kita perlu bercermin. 

Santo Oscar Romero pernah berkata: “A Church that does not provoke any crises, a Gospel that does not unsettle, a Word of God that does not disturb the sinner, what Gospel is that?” (Gereja yang tidak menimbulkan krisis, Injil yang tidak mengguncang, Sabda Allah yang tidak mengusik pendosa, Injil macam apa itu?) Jika Injil tak lagi membuat kita terusik, mungkin yang bermasalah bukan dunia, melainkan kita sendiri.

Apakah saya takut mati? Tentu. Saya manusia biasa, bukan martir. Tetapi saya percaya pada seruan Santa Katarina dari Siena: "Speak the truth in a million voices. It is silence that kills” (berbicaralah kebenaran dalam sejuta suara; yang membunuh adalah keheningan).

Diamlah yang membunuh; perlahan, tanpa terasa, tetapi pasti.

Segala sesuatu memang harus diperhitungkan. Risiko harus dicegah. Konsekuensi harus disadari. Keberanian bukan nekat. Keberanian adalah kesetiaan pada nurani setelah semua hitung-hitungan selesai.

Saya tidak bersuara karena merasa paling benar. Saya bersuara karena saya tidak ingin menjadi bagian dari sistem yang membiarkan ketidakadilan berlangsung sambil tetap berdoa dengan tenang. Jika kritik dianggap ancaman, mungkin yang terganggu bukan kata-kata saya, melainkan kenyamanan yang terusik.

Dan jika suatu hari saya kembali ditanya, “Takut mati?”

Saya akan menjawab: saya lebih takut kehilangan nurani daripada kehilangan kenyamanan.

Via Artikel
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

Media Sosial

facebook Like
twitter Follow
youtube Langganan
instagram Follow

Featured Post

Paradoks Sebuah Ciuman: Dari Yudas Iskariot ke Pergulatan Manusia Modern

Katolik terkini- April 03, 2026 0
Paradoks Sebuah Ciuman: Dari Yudas Iskariot ke Pergulatan Manusia Modern
Oleh: Joan Damaiko Udu Research Fellow, Global Human Rights Hub, Arizona State University, Amerika Serikat Katolik Terkini - “Manusia dibiarkan sendiri di dun…

Most Popular

Karya Pertama dari Indonesia, Patung Yusuf Arimatea Dipersembahkan kepada Paus Leo XIV di Vatikan

Karya Pertama dari Indonesia, Patung Yusuf Arimatea Dipersembahkan kepada Paus Leo XIV di Vatikan

Maret 30, 2026
Rabu Suci: Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan yang Sunyi

Rabu Suci: Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan yang Sunyi

April 01, 2026
Momen Istimewa Minggu Palma di Werang, Dipimpin Langsung oleh Uskup Labuan Bajo

Momen Istimewa Minggu Palma di Werang, Dipimpin Langsung oleh Uskup Labuan Bajo

Maret 30, 2026
Gereja yang Hadir dan Peduli: Kunjungan Pastoral Uskup Labuan Bajo ke Rumah Shelter

Gereja yang Hadir dan Peduli: Kunjungan Pastoral Uskup Labuan Bajo ke Rumah Shelter

Maret 30, 2026

Editor Post

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

April 12, 2025
Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Januari 20, 2026
Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

April 11, 2025
Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Januari 19, 2026

Popular Post

Karya Pertama dari Indonesia, Patung Yusuf Arimatea Dipersembahkan kepada Paus Leo XIV di Vatikan

Karya Pertama dari Indonesia, Patung Yusuf Arimatea Dipersembahkan kepada Paus Leo XIV di Vatikan

Maret 30, 2026
Rabu Suci: Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan yang Sunyi

Rabu Suci: Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan yang Sunyi

April 01, 2026
Momen Istimewa Minggu Palma di Werang, Dipimpin Langsung oleh Uskup Labuan Bajo

Momen Istimewa Minggu Palma di Werang, Dipimpin Langsung oleh Uskup Labuan Bajo

Maret 30, 2026
Gereja yang Hadir dan Peduli: Kunjungan Pastoral Uskup Labuan Bajo ke Rumah Shelter

Gereja yang Hadir dan Peduli: Kunjungan Pastoral Uskup Labuan Bajo ke Rumah Shelter

Maret 30, 2026

Populart Categoris

  • Berita862
  • Cerpen7
  • Doa81
  • Film18
  • Filsafat10
  • Internasional356
  • Jelajah115
  • Lifestyle201
  • Nasional131
  • Pelayanan Sosial121
  • Puisi2
  • Refleksi355
  • Sosok312
  • Teologi68
Katolik Terkini

Tentang Kami

Katolik Terkini adalah platform berita online independen yang memiliki komitmen kuat untuk menyajikan informasi, berita, dan data seputar Gereja Katolik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kontak kami: katolikterkini@gmail.com

Follow Us

© KATOLIK TERKINI oleh Katolik Terkini
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Daftar Isi Katolik Terkini