Pelatih Valencia CF Hilang di Selat Padar, Seribu Lilin Menyala di Labuan Bajo
![]() |
| Sumber foto dari Komsos Keuskupan Labuan Bajo |
Katolik Terkini - Tragedi tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan Selat Padar, Labuan Bajo, pada Jumat malam, 26 Desember 2025, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, komunitas pariwisata, serta masyarakat Manggarai Barat.
Insiden laut yang terjadi di tengah aktivitas wisata unggulan ini menjadi pukulan berat bagi citra kemanusiaan dan keselamatan pelayaran di kawasan super prioritas tersebut.
Dari total 11 orang yang berada di atas kapal, tujuh orang berhasil selamat, termasuk kru kapal dan pemandu wisata. Namun, empat penumpang warga negara Spanyol dinyatakan hilang. Mereka adalah Fernando Martin Carreras, pelatih tim B putri Valencia CF, bersama tiga anaknya.
Hingga 2 Januari 2026, tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) masih melakukan operasi pencarian. Masa pencarian resmi diperpanjang selama empat hari ke depan.
Dari empat korban hilang, satu jenazah telah ditemukan, sementara tiga korban lainnya masih dalam pencarian intensif di perairan yang dikenal memiliki arus kuat dan kedalaman ekstrem.
Doa dan Seribu Lilin di Waterfront Labuan Bajo
Sebagai bentuk empati dan solidaritas, Keuskupan Labuan Bajo melalui Komisi Kateketik menggelar doa Rosario bersama dan Aksi Seribu Lilin di Waterfront Labuan Bajo, Jumat malam (2/1/2026).
Kegiatan ini diikuti oleh umat Katolik, masyarakat umum, pelaku pariwisata, serta relawan kemanusiaan.
Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Labuan Bajo, Romo Hermen Sanusi, Pr, menjelaskan bahwa aksi tersebut merupakan ungkapan dukungan moral dan spiritual bagi para korban serta keluarga yang ditinggalkan.
“Gereja Katolik hadir untuk memberikan penguatan iman, penghiburan, dan harapan. Kami juga ingin memberi semangat kepada tim SAR dan para relawan yang sedang bekerja tanpa lelah mencari para korban,” ujar Romo Hermen.
Ia menambahkan, aksi seribu lilin ini menjadi simbol empati bersama masyarakat dan pelaku pariwisata Labuan Bajo atas tragedi kemanusiaan yang terjadi di laut mereka.
Suasana Haru dan Simbol Harapan
Suasana haru menyelimuti Waterfront Labuan Bajo saat ribuan lilin dinyalakan di tepi laut. Hadir pula istri dari Fernando Martin Carreras, yang tampak larut dalam doa bersama masyarakat setempat.
Tangis dan keheningan menyatu dalam cahaya lilin yang berkelip di tengah gelapnya malam laut Flores.
Doa Rosario dan Aksi Seribu Lilin ini bertujuan untuk mendoakan keselamatan, ketenangan arwah korban, serta memberikan dukungan moril kepada keluarga yang masih menanti kepastian nasib orang-orang terkasih.
Lebih dari sekadar ritual doa, aksi ini mengandung makna simbolik yang mendalam. Lilin melambangkan cahaya yang menembus kegelapan, sejalan dengan upaya pencarian korban yang dilakukan di perairan dalam Selat Padar.
Cahaya lilin menjadi lambang harapan agar para korban “dituntun kembali” melalui doa dan solidaritas masyarakat.
Duka Universal dan Solidaritas Kemanusiaan
Tragedi KM Putri Sakinah tidak hanya menjadi duka lokal, tetapi juga duka global, mengingat korban berasal dari luar negeri.
Penyalaan 1.000 lilin di Waterfront Labuan Bajo menjadi bentuk penghormatan kolektif masyarakat Manggarai Barat kepada keluarga korban yang tengah berduka di tanah perantauan.
Aksi ini juga mencerminkan solidaritas sesama pelaut dan pelaku wisata, bahwa di tengah tantangan alam dan risiko pelayaran, termasuk anomali gelombang laut, komunitas tetap bersatu untuk saling menguatkan.
Secara tersirat, nyala lilin menjadi pengingat moral bagi otoritas pelayaran dan operator kapal wisata agar meningkatkan standar keselamatan dan mitigasi risiko.
Cahaya lilin melambangkan komitmen bersama untuk “menerangi” sistem keamanan pelayaran di Labuan Bajo agar tragedi serupa tidak terulang di masa depan.
Dalam suasana doa yang khidmat, penyalaan lilin juga mencerminkan sikap tawakal masyarakat. Ketika upaya manusia melalui kerja tim SAR telah dikerahkan secara maksimal, masyarakat menyerahkan hasil akhir kepada Tuhan, memohon agar laut kembali bersahabat dan memberikan jawaban atas penantian panjang keluarga korban.
Tragedi ini meninggalkan luka, namun juga menyalakan harapan, bahwa dari kegelapan laut, cahaya kemanusiaan tetap menyala di Labuan Bajo.(AD)
Sumber : Komsos Keuskupan Labuan Bajo

Posting Komentar