Misa Tahun Baru di Vatikan, Paus Leo XIV Tegaskan Jalan Damai adalah Keterbukaan dan Pengampunan
![]() |
| Sumber foto dari Catholic News Agency (CNA) |
Katolik Terkini - Paus Leo XIV mengajak umat Katolik di seluruh dunia untuk membangun perdamaian melalui keterbukaan, pengampunan, dan kerahiman, seraya menegaskan bahwa perdamaian sejati tidak akan pernah lahir dari kekerasan, pengucilan, atau penindasan.
Seruan ini disampaikannya dalam perayaan Misa Hari Raya Santa Perawan Maria, Bunda Allah, sekaligus Hari Perdamaian Sedunia, yang dirayakan di Basilika Santo Petrus, Kamis (1/1/2026).
Dalam homilinya pada awal tahun baru, Paus menegaskan bahwa dunia tidak diselamatkan dengan kekuatan senjata atau sikap menghakimi.
“Dunia tidak diselamatkan dengan menajamkan pedang, juga bukan dengan menghakimi, menindas, atau menyingkirkan saudara-saudari kita,” ujar Paus Leo XIV.
Ia menambahkan bahwa keselamatan dunia lahir dari usaha tanpa lelah untuk memahami, mengampuni, membebaskan, dan menerima semua orang tanpa perhitungan serta tanpa rasa takut.
Misa Tahun Baru ini dihadiri oleh para diplomat yang terakreditasi pada Tahta Suci, sebagaimana tradisi setiap tanggal 1 Januari. Kehadiran mereka menegaskan dimensi internasional doa Gereja bagi perdamaian dunia, yang setiap tahun diperingati pada Hari Perdamaian Sedunia.
Berkat Tahun Baru dan Awal Hidup yang Diperbarui
Mengawali homilinya, Paus Leo XIV merenungkan berkat Kitab Suci dari Kitab Bilangan: “Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau… dan memberi engkau damai sejahtera.”
Menurut Paus, berkat ini pertama-tama ditujukan kepada bangsa Israel yang dibebaskan dari perbudakan di Mesir, dan kini menjadi cermin bagi hidup Kristiani pada awal tahun yang baru.
Ia menegaskan bahwa setiap hari sesungguhnya dapat menjadi awal yang baru bagi setiap orang.
“Setiap hari dapat menjadi awal dari kehidupan yang baru, berkat kasih Allah yang murah hati, kerahiman-Nya, dan tanggapan dari kebebasan kita,” katanya.
Tahun yang baru, lanjut Paus, adalah sebuah perjalanan terbuka yang dijalani sebagai pribadi yang telah diampuni dan dipanggil untuk menjadi pembawa pengampunan, dengan penuh kepercayaan akan penyertaan Tuhan.
Maria, Inkarnasi, dan Wajah Manusiawi Kerahiman
Paus Leo XIV memusatkan refleksinya pada misteri Inkarnasi serta peran Maria dalam sejarah keselamatan. Ia menegaskan bahwa melalui “ya” Maria, Allah menghadirkan wajah manusiawi dari sumber segala kerahiman, yakni Yesus Kristus.
“Melalui mata Yesus, sejak Ia kanak-kanak hingga dewasa, kasih Bapa menjangkau kita dan mengubah hidup kita,” ujar Paus.
Karena itu, umat beriman diajak untuk mengawali tahun dengan kepercayaan baru akan kasih Allah, serta memohon rahmat agar senantiasa merasakan kehangatan pelukan kebapaan-Nya.
Perdamaian “Tanpa Senjata dan Melucuti”
Menggemakan tema Pesan Hari Perdamaian Sedunia tahun ini, Paus Leo XIV menyoroti kerendahan hati Allah yang tampak dalam kelahiran Yesus.
Mengutip Santo Agustinus, ia menegaskan bahwa kasih Allah sepenuhnya adalah anugerah, yang dinyatakan dalam kerentanan seorang bayi di palungan.
“Allah menampilkan diri-Nya kepada kita ‘tanpa senjata dan melucuti,’ telanjang dan tak berdaya seperti seorang bayi yang baru lahir,” kata Paus.
Menurutnya, gaya Allah inilah yang harus menjadi teladan bagi kesaksian Kristiani di dunia yang sering dikuasai oleh logika paksaan, balas dendam, dan ketakutan.
Maria sebagai Murid yang Rendah Hati
Selain sebagai Bunda Allah, Maria juga ditampilkan Paus sebagai murid sejati yang mengikuti Yesus hingga salib dan kebangkitan. Ia menggambarkan Maria sebagai pribadi yang “menanggalkan setiap pertahanan,” dengan melepaskan kenyamanan, tuntutan, dan harapan pribadi demi menyerahkan seluruh hidupnya kepada kehendak Allah.
Dalam keibuan ilahi Maria, Paus melihat perjumpaan dua realitas besar yang sama-sama “tanpa senjata”: Allah yang merendahkan diri-Nya menjadi manusia, dan manusia yang mempersembahkan kebebasannya secara penuh kepada Allah.
Perutusan Gereja di Tahun yang Baru
Menutup homilinya, Paus Leo XIV mengingat kembali ajakan Santo Yohanes Paulus II untuk memulai kembali dengan keberanian.
Menjelang penutupan Yubileum Harapan, Paus mengajak umat beriman untuk kembali ke palungan Betlehem sebagai sumber perdamaian sejati, lalu melangkah maju dengan komitmen baru.
“Seperti para saksi yang rendah hati di Betlehem, marilah kita kembali melangkah sambil memuliakan dan memuji Allah atas apa yang telah kita lihat dan dengar,” kata Paus.
Paus juga menegaskan bahwa komitmen inilah yang hendaknya menjadi tekad umat Kristiani, bukan hanya untuk tahun yang baru, melainkan untuk seluruh perjalanan hidup iman.(AD)
Sumber: Catholic News Agency (CNA)

Posting Komentar