Melukis Senyum, Merenda Tawa: Natal 2025 Keluarga Kahar dan Lantar Penuh Kehangatan
![]() |
| Kebersamaan Keluarga Besar Kahar dan Lantar Se-Jabodetabek dalam acara Natal dan Tahun Baru bersama di Villa PGI di Megamendung (9-11 Januari 2026) |
Katolik Terkini - Suasana hangat penuh tawa dan persaudaraan mewarnai perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 yang digelar Keluarga Besar Kahar dan Lantar se-Jabodetabek.
Mengusung tema “Melukis Senyum, Merenda Tawa”, perayaan ini berlangsung selama tiga hari, 9–11 Januari 2026, di Villa PGI, Megamendung, Jawa Barat.
Perayaan ini menjadi momen yang sangat berkesan karena mempertemukan dua keluarga besar, Kahar dan Lantar, yang memiliki akar sejarah yang sama, yakni berasal dari Kampung Ngendeng.
Di tengah kesibukan hidup di perantauan, jarak dan waktu seolah luluh dalam suasana kekeluargaan yang kental sejak hari pertama hingga penutupan acara.
Sejak awal kegiatan, nuansa kebersamaan terasa kuat. Canda tawa dan cerita-cerita lawas mengalir hangat di antara para peserta. Para senior keluarga berbagi kisah perjuangan hidup mereka di Jakarta, mulai dari cerita kerasnya merintis kehidupan hingga kisah jenaka masa muda di tanah rantau, termasuk pengalaman “merebut hati enu-enu”, yang spontan mengundang gelak tawa dan keakraban lintas generasi.
Tak hanya diisi dengan berbagi cerita, kebersamaan juga dirayakan melalui berbagai hiburan. Suasana semakin hidup saat sesi karaoke dan goyang bersama yang dipandu oleh Bapak Gusti Lesek dari Keluarga Lantar dan Bapak Petrus Salestinus dari Keluarga Kahar. Irama lagu, tawa lepas, dan kebersamaan berpadu menciptakan kenangan yang tak terlupakan bagi seluruh peserta.
Puncak perayaan ditandai dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Pater Villand Nasrudin, SVD. Perayaan iman ini menjadi momen penyempurna yang meneguhkan iman sekaligus mempersatukan seluruh keluarga dalam rasa syukur atas kebersamaan yang dianugerahkan Tuhan.
Dalam homilinya, Pater Villand menegaskan pentingnya membawa terang Kristus ke dalam seluruh aspek kehidupan. Ia mengingatkan bahwa Injil menunjukkan kabar sukacita Natal pertama-tama disampaikan kepada para gembala, bukan saat mereka berada di Bait Allah, melainkan ketika sedang bekerja dan setia pada rutinitas hidup mereka.
“Tuhan hadir di tengah rutinitas hidup kita yang sederhana. Ia hadir saat kita berangkat kerja pagi-pagi, saat menyiapkan makanan untuk keluarga, saat menemani anak belajar, bahkan saat kita merasa lelah dan jenuh,” ungkapnya.
Menurut Pater Villand, Natal bukan hanya tentang menerima terang Kristus, tetapi juga panggilan untuk menjadi terang bagi keluarga dan sesama. Di tengah kehidupan kota yang keras dan cenderung individualistis, terang Kristus sangat dibutuhkan melalui sikap saling menghargai, kesediaan mendengarkan, dan kerelaan untuk mengalah demi damai bersama.
Ia juga mengutip pesan Santa Teresa yang menegaskan bahwa makna Natal sejatinya dirayakan setiap hari.
“Ketika kita tersenyum dengan tulus kepada sesama, itu pun sudah merayakan Natal. Senyum yang tulus membawa damai, berbeda dengan senyum yang dipaksakan,” tuturnya.
Menutup homilinya, Pater Villand mengajak seluruh keluarga untuk tidak menunggu hidup menjadi sempurna untuk bersyukur dan berbagi kasih.
“Biarlah terang Kristus yang lahir di Betlehem terus menyala dalam keluarga kita masing-masing, menuntun langkah kita, dan menguatkan kita untuk menjadi terang bagi sesama di tengah dunia yang masih gelap,” pesannya.
Seluruh rangkaian perayaan ini kemudian dirangkum dalam sebuah ungkapan Manggarai yang sarat makna dan mencerminkan semangat kebersamaan, “Le nuk tara cumang, le cumang tara bae, le bae tara momang.” Sebuah pesan sederhana namun mendalam tentang pentingnya persaudaraan, kebaikan, dan saling merangkul dalam kehidupan bersama.(AD)


Posting Komentar