Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara Masuki Kevikepan Labuan Bajo, Teguhkan Iman dan Budaya Manggarai
Labuan Bajo, Katolik Terkini – Ziarah rohani Arca Bunda Maria Assumpta Nusantara terus berlanjut melintasi wilayah Keuskupan Labuan Bajo. Setelah mengunjungi paroki-paroki di Kevikepan Wae Nakeng dan Kevikepan Pacar, kini prosesi memasuki wilayah Kevikepan Labuan Bajo dengan membawa semangat persaudaraan, harapan, serta ajakan untuk semakin mencintai budaya lokal sebagai tempat bertumbuhnya iman.
Perjalanan Arca Bunda Maria dari satu paroki ke paroki lainnya tidak hanya menjadi ungkapan devosi umat Katolik, tetapi juga menghadirkan pengalaman iman yang mempererat persaudaraan serta menghidupkan kembali kecintaan terhadap budaya Manggarai. Di setiap tempat persinggahan, umat menyambut Bunda Maria dengan penuh sukacita melalui prosesi adat yang memadukan doa Gereja dengan kekayaan tradisi lokal.
Kain songke, selendang, topi Manggarai, serta berbagai ornamen budaya menghiasi setiap prosesi penyambutan. Tari-tarian tradisional, bunyi gong dan gendang, serta lantunan lagu-lagu daerah mengiringi ritus penerimaan dan pengantaran, menciptakan suasana yang sarat makna spiritual sekaligus menampilkan wajah Gereja yang semakin berakar dalam budaya masyarakat.
Prosesi ini menjadi gambaran nyata semangat inkulturasi Gereja. Iman Katolik hadir bukan untuk menghapus budaya, melainkan menyucikan, mengangkat, dan memperkaya nilai-nilai luhur yang telah hidup di tengah masyarakat. Melalui ziarah ini, umat diajak menyadari bahwa Kristus menjumpai manusia dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui bahasa, adat istiadat, simbol, ritus, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Vikaris Episkopal Kevikepan Pacar, Rm. Didimus Mbembo, menegaskan bahwa salah satu pesan penting dari kunjungan Bunda Maria adalah membangkitkan kembali kesadaran akan identitas budaya masyarakat Manggarai.
"Kunjungan Bunda Maria mengangkat kembali budaya-budaya kita dan menegaskan identitas kita sebagai orang Manggarai. Bunda Maria ingin agar kita tidak meninggalkan kekayaan ritus dan budaya yang kita miliki, tetapi menjaga, merawat, dan mengembangkannya. Sebab iman yang sungguh berakar adalah iman yang bertumbuh dan hidup di dalam budaya. Festival Golo Koe tahun ini membantu umat melihat dimensi budaya dalam perziarahan iman sebagai orang Katolik," ujar Rm. Didimus (24/7/2026).
Pandangan serupa disampaikan Pastor Paroki Compang, Rm. Flori Suyanto. Menurutnya, kehadiran Arca Bunda Maria menjadi momentum untuk kembali menghargai kearifan lokal di tengah derasnya arus perubahan zaman.
"Nilai-nilai budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi fondasi yang membentuk semangat persaudaraan, solidaritas, dan sikap ramah terhadap siapa pun. Nilai-nilai inilah yang menjadi jiwa hospitalitas masyarakat Manggarai dan sekaligus menjadi kekuatan dalam membangun pariwisata yang berakar pada martabat manusia dan budaya lokal. Kehadiran Bunda Maria mengingatkan kembali bahwa kemajuan tidak boleh memutus hubungan masyarakat dengan akar budayanya," ungkapnya (25/7/2026).
Semangat tersebut sejalan dengan visi Festival Golo Koe "Maria Assumpta Nusantara" yang sejak awal dirancang sebagai festival religi-budaya. Festival ini menggabungkan spiritualitas Gereja dengan kekayaan tradisi masyarakat Manggarai. Ikon Maria Assumpta melambangkan harapan dan perjalanan umat menuju kepenuhan hidup dalam Allah, yang diwujudkan melalui ziarah bersama dalam semangat persaudaraan, sinodalitas, dan keterbukaan.
Memasuki penyelenggaraan kelima, sekaligus untuk kedua kalinya masuk dalam Top Karisma Event Nusantara (KEN), Festival Golo Koe semakin menegaskan identitasnya sebagai ruang perjumpaan antara iman, budaya, dan pariwisata berkelanjutan.
Puncak Festival Golo Koe 2026 akan berlangsung pada 10–15 Agustus 2026 di kawasan Waterfront City Labuan Bajo. Beragam perayaan iman dan budaya akan digelar sebagai wujud kebanggaan masyarakat Manggarai sekaligus menjadi wajah keramahan Keuskupan Labuan Bajo bagi Indonesia dan dunia.
Lebih dari sekadar perjalanan sebuah arca, Prosesi Maria Assumpta Nusantara menjadi perjalanan iman yang menghidupkan kembali akar budaya, memperkuat persaudaraan, menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas lokal, serta menegaskan bahwa Gereja hadir dan bertumbuh bersama umat di tengah budaya yang mereka hidupi setiap hari.
Sumber: Komsos Keuskupan Labuan Bajo

Posting Komentar