Berita
Daerah
Humaniora
Nasional
Misa Inkulturasi Satu Suro di Paroki St. Petrus Kenten Palembang: Merajut Tradisi Jawa Dalam Semangat Berserah Pada Tuhan
PALEMBANG – Katolik Terkini - Ratusan umat Katolik memadati Gereja Paroki Santo Petrus Kenten dalam Perayaan Ekaristi Inkulturasi untuk memperingati Tahun Baru Jawa atau Satu Suro, Selasa (16/6/2026) sore. Perayaan yang telah menjadi tradisi tahunan ini berlangsung khidmat dengan memadukan kekayaan liturgi Gereja Katolik dan budaya Jawa yang kental.
Sejak pukul 17.00 WIB, nuansa sakral telah terasa ketika para imam memasuki gereja dalam perarakan menuju altar yang diiringi alunan gamelan, lagu-lagu liturgi berbahasa Jawa, serta tarian tradisional. Sekitar 800 umat yang hadir tampak antusias mengenakan busana adat Jawa, menghadirkan suasana inkulturasi yang anggun dan penuh makna.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Florentinus Suryanto, SCJ, didampingi Romo Laurensius Suwanto, SCJ, dan Romo Gregorius Wahyu Wurdiyanto, SCJ. Turut hadir Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Romo Yohanes Kristanto, bersama delapan imam konselebran lainnya.
Dalam homilinya, Romo Floren mengangkat tema “Sumeleh lan Sumarah Marang Gusti”, yang mengajak umat untuk menyerahkan hidup kepada Tuhan di tengah berbagai tantangan dan tekanan kehidupan modern.
Menurutnya, banyak orang saat ini merasa lelah karena berusaha mengendalikan segala sesuatu sesuai kehendaknya sendiri, mulai dari pekerjaan, kesehatan, hingga masa depan.
“Kita ingin usaha berjalan sesuai harapan, kesehatan selalu baik, dan masa depan sesuai rencana. Kita menggenggam semuanya begitu kuat hingga hati kita sendiri menjadi lelah,” ungkap Romo Floren di hadapan umat.
Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Jawa, sumeleh berasal dari kata seleh yang berarti meletakkan. Sikap ini dimaknai sebagai keberanian untuk menenangkan hati di hadapan Allah dan menyerahkan segala beban hidup kepada-Nya. Sementara sumarah berarti mempercayakan hidup sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
“Sikap sumeleh dan sumarah bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan sebuah proses mawas diri, mendengarkan suara Tuhan, dan memeriksa kembali arah hidup melalui keheningan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Romo Floren menegaskan bahwa semangat berserah kepada Tuhan harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat. Hal tersebut tercermin dalam empat pilar pastoral yang terus dikembangkan Gereja.
Pada bidang Pastoral Kaderisasi, umat diajak mendampingi anak-anak, remaja, dan Orang Muda Katolik (OMK) agar siap menjadi penerus Gereja dan masyarakat. Dalam Pastoral Digital, umat didorong memanfaatkan teknologi sebagai sarana pewartaan kasih dan kebenaran, bukan sebagai media penyebaran kebencian maupun perpecahan.
Sementara melalui Pastoral Ekologis, umat diajak merawat bumi sebagai rumah bersama dan menolak berbagai bentuk eksploitasi alam yang merusak. Adapun Pastoral Anti-Perdagangan Manusia (Human Trafficking) menjadi wujud kepedulian Gereja dalam menjaga martabat manusia serta melawan segala bentuk eksploitasi.
Menghubungkan tema tersebut dengan Tahun Devosional yang sedang dijalani Gereja, Romo Floren mengajak umat untuk semakin tekun membangun relasi dengan Tuhan melalui doa.
“Tidak mungkin kita belajar sumeleh dan sumarah jika kita jarang berjumpa dengan Tuhan,” tegasnya.
Kemeriahan perayaan tidak berhenti setelah misa selesai. Sebagai ungkapan syukur atas berkat Tuhan, dilakukan pemberkatan gunungan hasil bumi di halaman gereja. Gunungan tersebut kemudian diarak menuju depan pastoran dengan iringan tarian tradisional Jawa.
Suasana semakin meriah ketika para imam dan umat bersama-sama menari dalam semangat persaudaraan. Tradisi dilanjutkan dengan pembagian hasil bumi dari gunungan kepada umat yang hadir, yang disambut antusias sebagai simbol berkat dan kelimpahan rezeki.
Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan ramah tamah dan santap ringan bersama. Melalui perayaan inkulturasi Satu Suro ini, umat tidak hanya diajak melestarikan nilai-nilai budaya Jawa, tetapi juga semakin mendalami makna iman melalui sikap sumeleh dan sumarah kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.
Kontributor Palembang : Andreas Daris
Via
Berita




Posting Komentar