Romo Richardus Manggu Ditunjuk Ketua MTQ Manggarai Barat, Wujud Nyata Toleransi
![]() |
| Romo Richardus Manggu, Pr dipercaya menjadi Ketua Panitia Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI tingkat kabupaten di Labuan bajo |
Katolik Terkini - Peristiwa unik sekaligus inspiratif terjadi di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Seorang imam Katolik dipercaya menjadi Ketua Panitia Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI tingkat kabupaten, sebuah kegiatan keagamaan yang identik dengan umat Islam. Penunjukan ini menjadi sorotan karena menghadirkan praktik nyata toleransi lintas iman di tengah masyarakat yang majemuk.
Tokoh yang dipercaya tersebut adalah Romo Richardus Manggu, yang saat ini menjabat sebagai Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Labuan Bajo sekaligus Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Manggarai Barat.
Ia ditetapkan sebagai ketua panitia dalam rapat pembentukan MTQ yang digelar di Labuan Bajo pada Selasa (7/6/2026), dipimpin oleh Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda Manggarai Barat, Fransiskus Xaverius Nambut.
“Sebagai ketua umum, Romo Richard Manggu, Pr,” ujar Fransiskus saat membacakan susunan panitia. Rapat tersebut turut dihadiri berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, Kementerian Agama, MUI, LPTQ, BAZNAS, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga unsur TNI-Polri.
MTQ XXXI tingkat Kabupaten Manggarai Barat sendiri dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 27 April hingga 1 Mei 2026, dan dipusatkan di Masjid Nurul Falah Wae Mata Labuan Bajo.
Wajah Toleransi yang Hidup
Dalam pernyataannya, Romo Richard menyambut baik kepercayaan yang diberikan oleh tokoh-tokoh Muslim. Ia menilai penunjukan tersebut mencerminkan wajah Manggarai Barat yang terbuka dan toleran.
“Ini adalah bentuk penghargaan dan kepercayaan. Sebagai Ketua FKUB, saya ingin menegaskan komitmen bersama untuk menjaga Manggarai Barat sebagai ruang yang inklusif dan harmonis,” ungkapnya.
MTQ selama ini dikenal bukan hanya sebagai ajang perlombaan membaca Al-Qur’an, tetapi juga sebagai ruang pembinaan iman dan ekspresi religius umat Islam. Karena itu, kepercayaan untuk memimpin kegiatan ini kepada tokoh dari luar komunitas Muslim dinilai sebagai langkah yang tidak biasa, namun sarat makna.
Sejumlah tokoh masyarakat menilai keputusan ini bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Kehidupan lintas agama di Manggarai Barat telah lama terjalin harmonis, ditopang oleh budaya gotong royong dan relasi sosial yang kuat.
“Ini bukan sekadar simbol, tetapi wujud nyata kepercayaan dan kebersamaan,” ujar seorang tokoh masyarakat di Labuan Bajo.
Pengamat sosial juga melihat peristiwa ini sebagai contoh praktik baik toleransi di Indonesia. Di tengah berbagai tantangan keberagaman, Manggarai Barat justru menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi kekuatan ketika dilandasi dialog dan kepercayaan.
Meski demikian, sejumlah pihak mengingatkan agar nilai toleransi yang ditampilkan tidak berhenti pada seremoni. Semangat inklusivitas diharapkan terus hidup dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pendidikan, pelayanan publik, dan relasi sosial sehari-hari.
Peristiwa ini juga dinilai memiliki nilai edukatif, terutama bagi generasi muda. Lembaga pendidikan diharapkan dapat menjadikannya sebagai contoh konkret pembelajaran tentang kebhinekaan, kepemimpinan inklusif, dan pentingnya kerja sama lintas identitas.
Refleksi Kebhinekaan
Manggarai Barat, dengan Labuan Bajo sebagai wajah utamanya, selama ini dikenal sebagai destinasi pariwisata unggulan. Namun, peristiwa ini menunjukkan sisi lain yang tak kalah penting: harmoni sosial yang hidup dan nyata.
Penunjukan seorang imam Katolik sebagai ketua MTQ menghadirkan refleksi mendalam tentang makna kebhinekaan. Di tengah identitas keagamaan yang kuat, kepercayaan justru mampu melampaui sekat-sekat tersebut.
Peristiwa ini bukan sekadar anomali, melainkan cermin kedewasaan sosial. Ia menunjukkan bahwa kebhinekaan sejati tidak berhenti pada slogan, tetapi terwujud dalam tindakan nyata, ketika perbedaan dirangkul dalam kerja bersama.
Pada akhirnya, Manggarai Barat tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pelajaran berharga tentang bagaimana harmoni dapat dibangun dari kepercayaan. Di sanalah kebhinekaan menemukan maknanya yang paling dalam.(AD)
Oleh: Komsos Keuskupan Labuan Bajo

Posting Komentar