Kasih Nyata Seorang Gembala: “Sehari Aksi Kasih” Uskup Labuan Bajo Menyapa Kaum Difabel dan Anak-anak Rentan
Katolik Terkini - Di tengah berbagai luka yang kerap tersembunyi dari perhatian publik, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menghadirkan kasih yang nyata melalui rangkaian kegiatan bertajuk “Sehari Aksi Kasih”.
Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (09/04/2026), mencakup kunjungan pastoral kepada kaum difabel hingga perayaan sakramen pembaptisan di Rumah Aman JPIC SSpS Flores Barat.
Kegiatan diawali dengan kunjungan penuh empati kepada Anak Nadila di Ngorang, Desa Ngorang, dan Anak Okta di Sok Rutung, Desa Golo Pongkor, Kecamatan Komodo.
Kedua anak tersebut merupakan penyandang disabilitas yang menjalani kehidupan sehari-hari dalam berbagai keterbatasan. Dalam kunjungan itu, Uskup hadir tidak hanya sebagai pemimpin rohani, tetapi sebagai gembala yang mendekat, mendengarkan, dan menguatkan.
Didampingi oleh sejumlah imam, antara lain Romo Richardus Manggu, Pr (Vikjen), Romo Frans Nala, Pr (Sekjen), Romo Yuvensius Rugi, Pr (Vikep Labuan Bajo sekaligus Direktur Caritas), Romo Charles Suwendi (Direktur Puspas), serta Romo Silvianus Mongko, Pr, kehadiran Uskup membawa suasana haru dan penuh keakraban. Percakapan sederhana, doa bersama, serta senyum yang dibagikan menjadi kekuatan tersendiri bagi keluarga yang dikunjungi.
Orang tua Anak Nadila dan Okta mengungkapkan rasa syukur atas perhatian yang mereka terima. “Kami merasa tidak sendirian. Gereja sungguh hadir dan mengambil bagian dalam penderitaan kami,” ungkap mereka dengan haru.
Kunjungan ini merupakan bagian dari komitmen pastoral Mgr. Maksimus Regus sejak awal masa pelayanannya. Setiap momentum besar seperti Natal dan Paskah, ia secara konsisten mengunjungi kelompok rentan, memberikan doa, dukungan moral, serta bantuan kebutuhan pokok sebagai tanda nyata kepedulian Gereja.
Pembaptisan di Rumah Aman: Awal Baru Penuh Harapan
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut di Rumah Aman JPIC SSpS Flores Barat, sebuah tempat perlindungan dan pemulihan bagi anak-anak dan perempuan rentan. Di tempat ini, Uskup memimpin perayaan sakramen pembaptisan bagi Anak Elisabeth Eleonora Michaela dan Anak Josef Mario Natalino Palma.
Dalam suasana khidmat, air baptis dituangkan sebagai tanda kelahiran baru dalam iman. Peristiwa ini tidak sekadar menjadi ritus keagamaan, melainkan simbol penerimaan, harapan, dan masa depan yang lebih terang bagi anak-anak yang pernah mengalami penolakan dan keterasingan.
Pimpinan Rumah Aman, Sr. Frederika Tanggu Hana, SSpS, menegaskan bahwa kegiatan ini menghadirkan kembali harapan di tengah luka yang sering tersembunyi.
“Setiap pribadi, betapapun rapuhnya, tetap berharga dan layak untuk dikasihi,” ujarnya.
Kasih yang Menjelma dalam Tindakan Nyata
Ketua Komisi Kateketik Keuskupan Labuan Bajo, Romo Hermen Sanusi, Pr, menilai bahwa apa yang dilakukan Mgr. Maksimus Regus merupakan gambaran nyata kasih seorang gembala sejati. Kasih tersebut tidak berhenti pada kata-kata atau seremonial, melainkan hadir dalam tindakan konkret yang menyentuh, merangkul, dan memulihkan.
“Dalam diri Uskup, kita melihat bagaimana Gereja menjadi rumah bagi yang tidak memiliki rumah, dan keluarga bagi yang kehilangan keluarga,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa pembaptisan anak-anak di Rumah Aman menjadi simbol kuat bahwa tidak ada satu pun kehidupan yang sia-sia atau tak layak untuk dicintai. Gereja, dalam hal ini, hadir sebagai ruang penerimaan dan pemulihan yang nyata.
Namun, kegiatan “Sehari Aksi Kasih” ini tidak hanya menjadi kisah yang mengharukan, melainkan juga refleksi mendalam bagi masyarakat. Di balik tindakan kasih tersebut, muncul pertanyaan yang menggugah: sejauh mana kepedulian bersama terhadap kaum difabel dan kelompok rentan?
Realitas menunjukkan bahwa banyak penyandang disabilitas masih menghadapi keterbatasan akses terhadap pendidikan, layanan kesehatan, serta ruang sosial yang inklusif. Stigma dan pengabaian masih menjadi tantangan nyata.
Dalam konteks ini, langkah Mgr. Maksimus Regus menjadi inspirasi sekaligus kritik sosial yang halus namun kuat. Bahwa kasih tidak cukup dirayakan sebagai peristiwa sesaat, tetapi harus menjadi gerakan bersama, menjadi sistem, kebijakan, dan budaya.
Kasih yang Menjadi Terang
Melalui “Sehari Aksi Kasih”, Uskup Labuan Bajo kembali menegaskan bahwa pelayanan Gereja harus menyentuh seluruh dimensi kehidupan manusia, baik spiritual maupun sosial. Dari kunjungan sederhana hingga sakramen suci, semuanya menjadi satu kesatuan dalam misi kasih yang menyembuhkan.
Di tengah dunia yang sering kali sibuk dan abai, tindakan ini mengingatkan kita bahwa kasih sejati tidak menunggu alasan. Ia hadir, menyapa, dan mencintai tanpa syarat, terutama bagi mereka yang kerap terlupakan.(AD)
Oleh: Komsos Keuskupan Labuan Bajo

Posting Komentar