Berita
Daerah
Humaniora
Inspirasi
Jelajah
Pelayanan Sosial
Bumi Terluka, Gereja Bergerak: Dekanat Palembang Gaungkan Pertobatan Ekologis dalam HPS ke-46
BANYUASIN, Katolik Terkini – Wilayah Dekanat Palembang, keuskupan agung Palembang mengajak umat untuk semakin peduli terhadap krisis ekologis dan persoalan pangan melalui gerakan nyata merawat lingkungan. Ajakan tersebut mengemuka dalam Lokakarya Perayaan Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-46 yang mengusung tema “Sinodalitas: Mendengarkan Suara Bumi dan Penghuninya” di Wismalat Podomoro, Kabupaten Banyuasin, Sumatra Selatan, Sabtu–Minggu (31 Oktober–1 November 2026).
Kegiatan yang diinisiasi Tim Ekologi Keuskupan Agung Palembang (KAPal) bersama Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) KAPal ini diikuti 107 peserta dari 11 paroki se-Dekanat Palembang. Mereka terdiri atas penggiat lingkungan, pengurus komisi, perwakilan kelompok kategorial, serta umat yang memiliki perhatian terhadap persoalan lingkungan hidup dan ketahanan pangan.
Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Palembang, Romo Yohanes Kristianto, saat membuka lokakarya menegaskan bahwa kondisi bumi saat ini membutuhkan perhatian serius dan kepekaan manusia untuk mendengarkan berbagai persoalan yang dialami alam.
“Bumi sedang tidak baik-baik saja. Mendengarkan suara bumi ternyata tidak mudah, butuh kepekaan,” tegasnya.
Menurut Romo Kristianto, kerusakan lingkungan bukan lagi persoalan teoritis, melainkan kenyataan yang dampaknya dirasakan manusia dan seluruh makhluk hidup. Karena itu, peringatan HPS tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial tahunan, tetapi harus menjadi momentum untuk mengubah kesadaran iman menjadi tindakan konkret.
Ia menyoroti sejumlah persoalan yang membutuhkan perhatian bersama, mulai dari pengelolaan sampah plastik, pemanfaatan pupuk organik, hingga pemulihan kesuburan tanah yang mengalami kerusakan akibat penggunaan bahan kimia pertanian secara berlebihan.
Romo Kristianto juga menekankan pentingnya sinergi antara berbagai unsur Gereja dalam menghadapi krisis ekologis.
“Jangan pernah menghindar dari yang namanya sinergi dan kolaborasi antar-sektor. Ada PSE, ada paroki-paroki, ada Tim Ekologi yang terbentuk mulai dari tingkat keuskupan hingga paroki-paroki. Inilah wujud nyata dari sinodalitas yang kita dengungkan: berjalan bersama untuk merawat kehidupan,” ujarnya.
Pembukaan lokakarya ditandai dengan pemukulan gong oleh Romo Kristianto, didampingi Dekan Dekanat Palembang Romo Hyginus Gono Pratowo dan Ketua Panitia F.X. Suwajib.
PSE sebagai Gerakan Iman dan Solidaritas
Dalam sesi berikutnya, Ketua Komisi PSE KAPal, Romo Laurentius Rakidi, menjelaskan bahwa Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) bukan sekadar komisi struktural yang menjalankan program bantuan atau kegiatan administratif Gereja. Lebih dari itu, PSE merupakan gerakan moral dan spiritualitas umat untuk memperjuangkan keadilan sosial, pemberdayaan ekonomi, serta keutuhan ciptaan.
“PSE bukan hanya urusan pengurus atau pimpinan Gereja. PSE adalah kita, dan kita adalah PSE. Artinya, setiap umat dipanggil untuk mengambil bagian dalam gerakan kepedulian terhadap sesama, khususnya mereka yang lemah, miskin, dan menderita,” ungkap Romo Rakidi.
Ia menjelaskan bahwa gerakan PSE bertumpu pada solidaritas dan belas kasih yang diwujudkan melalui kehadiran, pendampingan, serta pemberdayaan masyarakat agar mampu hidup lebih bermartabat dan mandiri.
Romo Rakidi juga menguraikan tiga pilar utama gerakan PSE, yakni Aksi Puasa Pembangunan (APP), Hari Pangan Sedunia (HPS), dan Lembaga Keuangan Mikro (LKM).
APP menjadi sarana pembinaan rohani dan semangat berbagi, HPS membangun kesadaran mengenai kedaulatan pangan dan keutuhan lingkungan, sedangkan LKM menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi untuk mendorong kemandirian masyarakat.
Mengacu pada ensiklik Laudato Si’ yang diterbitkan Paus Fransiskus, Romo Rakidi mengingatkan bahwa krisis ekologi tidak dapat dipisahkan dari krisis kemanusiaan. Masyarakat kecil, petani, nelayan tradisional, dan kelompok miskin sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampak pencemaran serta kerusakan lingkungan.
“Ketika bumi mengalami kerusakan, orang-orang kecil sering kali menjadi pihak yang paling berat merasakan dampaknya. Karena itu, mendengarkan suara bumi yang terluka sejatinya juga berarti mendengarkan jeritan mereka yang berjuang keras mengolah tanah demi menyediakan makanan di meja makan kita,” tuturnya.
Mengangkat Persoalan Ekologis di Sumatra Selatan
Selama dua hari pelaksanaan, lokakarya menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas persoalan lingkungan hidup, advokasi hukum, dan ketahanan pangan berdasarkan realitas yang terjadi di Sumatra Selatan.
Dr. Veronika Verbi Sununianti memaparkan dampak aktivitas penggalian dan penambangan minyak di wilayah Musi Banyuasin (Muba). Materinya menyoroti kerusakan lingkungan, pencemaran tanah dan air, serta ancaman terhadap kesehatan masyarakat akibat eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali.
Sementara itu, Yustinus Joni, S.H., membahas advokasi hukum di bidang pangan dan lingkungan hidup. Ia menekankan pentingnya pemahaman umat terhadap hak-hak ekologis serta keberanian untuk mengadvokasi kebijakan yang berpotensi merusak lingkungan dan mengancam mata pencaharian petani.
Tim Ekologi Dekanat Palembang turut mempresentasikan hasil investigasi mengenai kondisi lingkungan di sejumlah paroki. Salah satu persoalan yang disoroti adalah menurunnya kualitas kesuburan tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara berkepanjangan. Kondisi tersebut mendorong perlunya gerakan pemulihan tanah melalui praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Ketua Panitia HPS Dekanat Palembang, F.X. Suwajib, menjelaskan bahwa lokakarya dipilih agar perayaan HPS menghasilkan tindak lanjut yang dapat diterapkan langsung oleh umat di lingkungan masing-masing.
“Kita tidak boleh berhenti pada rasa prihatin. Di sini kita belajar hal-hal praktis seperti pembuatan eco-enzyme, pupuk organik cair, dan pupuk padat agar sekembalinya dari sini, ada aksi nyata yang bisa diterapkan di paroki dan lingkungan masing-masing, meskipun dimulai dari langkah kecil,” jelasnya.
Menurut Suwajib, tema mendengarkan suara bumi dan penghuninya mengandung ajakan untuk tidak menutup mata terhadap kerusakan alam. Kepedulian harus diwujudkan melalui perubahan kebiasaan dan tindakan yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Penanaman Pohon sebagai Komitmen Pertobatan Ekologis
Sebagai bagian dari Rencana Tindak Lanjut (RTL), rangkaian lokakarya ditutup dengan aksi penanaman pohon bersama di area camping ground Wismalat Podomoro. Kegiatan ini melibatkan peserta, narasumber, dan jajaran pimpinan Keuskupan Agung Palembang.
Penanaman pohon tersebut menjadi simbol komitmen bersama untuk merawat lingkungan sekaligus menghidupi semangat pertobatan ekologis dalam kehidupan menggereja.
Romo Rakidi mengajak umat Katolik memulai kepedulian terhadap bumi dari kebiasaan sederhana sehari-hari. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain mengonsumsi makanan secara bijak agar tidak terbuang percuma, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mengolah sampah rumah tangga, memanfaatkan lahan kosong untuk pertanian ramah lingkungan, serta membeli dan menghargai produk pertanian lokal dengan harga yang adil.
“Kita tidak cukup hanya berwacana tentang kepedulian terhadap bumi dan pangan. Kita perlu berjalan bersama, mendengarkan jeritan sesama dan alam, lalu melangkah dalam aksi nyata. Dengan demikian, Hari Pangan Sedunia sungguh menjadi gerakan iman yang memancarkan kehidupan bagi manusia dan seluruh ciptaan Allah,” pungkasnya.
Melalui Lokakarya HPS ke-46 ini, Gereja Katolik Dekanat Palembang menegaskan komitmennya untuk terlibat dalam menjawab persoalan ekologis dan ketahanan pangan. Semangat sinodalitas diharapkan tidak berhenti di ruang lokakarya, tetapi terus bertumbuh menjadi gerakan bersama di tingkat paroki dan lingkungan.
Sebab, merawat bumi bukan hanya tanggung jawab segelintir orang, melainkan panggilan iman seluruh umat untuk menjaga rumah bersama dan memperjuangkan kehidupan yang lebih bermartabat bagi generasi mendatang.
Kontributor: Andreas Daris Awalstyo
Via
Berita

Posting Komentar