-->
Telusuri
24 C
id
Katolik Terkini
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • Sosok
  • Humaniora
    • Humaniora
  • Refleksi
  • Lifestyle
  • Travelling
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
Katolik Terkini
Telusuri
Beranda Artikel Berita Filsafat Humaniora Buku Baru Petrus Tan: Membaca Ulang Meritokrasi dalam “Tirani Meritokrasi dan Gerakan Murka Demokrasi"
Artikel Berita Filsafat Humaniora

Buku Baru Petrus Tan: Membaca Ulang Meritokrasi dalam “Tirani Meritokrasi dan Gerakan Murka Demokrasi"

Katolik terkini
Katolik terkini
14 Apr, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Katolik Terkini - Buku Tirani Meritokrasi dan Gerakan Murka Demokrasi karya Petrus Tan mencoba menjelaskan kenapa banyak orang hari ini merasa marah, kecewa, dan tidak percaya pada sistem demokrasi.

Buku ini ditulis di tengah situasi sosial yang panas, termasuk kerusuhan di Jakarta pada Agustus 2025. Namun, penulis tidak hanya melihat masalah dari sisi ekonomi atau politik, melainkan dari sisi moral, yaitu cara kita memandang “kesuksesan” dan “kegagalan”.

Salah satu gagasan utama dalam buku ini adalah kritik terhadap meritokrasi. Meritokrasi adalah keyakinan bahwa orang yang berhasil itu karena usaha dan kemampuannya sendiri, sehingga mereka pantas mendapatkan lebih. Sebaliknya, orang yang gagal sering dianggap salahnya sendiri.

Dengan mengikuti pemikiran Michael Sandel, Petrus Tan menunjukkan bahwa cara berpikir seperti ini bisa berbahaya. Ia bisa membuat orang yang sukses menjadi sombong, dan orang yang gagal merasa rendah diri. Akibatnya, jarak antara orang kaya dan miskin tidak hanya soal uang, tetapi juga soal harga diri dan rasa kemanusiaan.

Buku ini juga menjelaskan bahwa dulu meritokrasi adalah ide yang baik, karena ingin melawan sistem feodalisme yang tidak adil. Namun sekarang, ide ini sering dipakai untuk membenarkan ketimpangan sosial. Orang-orang yang berkuasa bisa mengatakan bahwa posisi mereka memang pantas, sementara yang di bawah dianggap kurang berusaha. Di sinilah meritokrasi berubah menjadi semacam “tirani” yang tidak terlihat.

Selain membahas teori, buku ini juga memperkaya argumennya dengan pandangan para pemikir. Menurut Prof. Dr. F. Budi Hardiman, buku ini menarik karena melihat meritokrasi dari sisi yang jarang dibahas. Di Indonesia, kita sering menuntut meritokrasi untuk melawan nepotisme dan korupsi.

Namun, buku ini justru menunjukkan bahwa meritokrasi juga bisa dipakai untuk membenarkan ketimpangan. Dari sini muncul pertanyaan penting: apakah kita masih bisa mengandalkan meritokrasi sebagai solusi, atau perlu mencari pendekatan lain yang lebih manusiawi?

Sementara itu, Dr. phil. Norbertus Jegalus menyoroti persoalan keadilan. Ia menjelaskan bahwa keadilan tidak cukup hanya dilihat sebagai pembagian hasil, seperti yang diajarkan oleh Aristoteles, Thomas Aquinas, dan John Rawls. 

Buku ini menawarkan gagasan keadilan partisipasi, yaitu setiap orang harus punya kesempatan untuk ikut berkontribusi dalam masyarakat. Namun, gagasan ini masih menimbulkan pertanyaan: bagaimana cara menerapkannya dalam kehidupan nyata?

Menurut Prof. Justinus Sudarminta, buku ini membantu kita memahami bahwa meritokrasi bisa menciptakan ketidakadilan jika tidak memperhatikan kondisi nyata masyarakat. Keadilan sosial hanya bisa terwujud jika perbedaan dalam masyarakat benar-benar diperhitungkan. Namun, tantangannya adalah bagaimana membuat kebijakan yang adil tanpa menimbulkan ketimpangan baru.

Sedangkan Prof. F.X. Eko Armada Riyanto melihat bahwa dalam praktiknya, meritokrasi di tangan kelompok berkuasa justru merusak kesetaraan. Ia bahkan menilai meritokrasi bisa menjadi ancaman bagi keadilan, transparansi, dan akuntabilitas demokrasi. Meski begitu, pandangan ini juga mengajak kita bertanya: apakah yang salah adalah meritokrasinya, atau cara manusia menggunakannya?

Secara keseluruhan, buku ini tidak selalu mudah dipahami dan belum memberikan solusi yang sangat jelas. Namun, buku ini tetap penting karena membuka cara pandang baru. Ia mengajak kita melihat bahwa masalah demokrasi bukan hanya soal sistem, tetapi juga soal nilai-nilai seperti solidaritas, empati, dan rasa kebersamaan.

Pada akhirnya, buku ini mengajak kita untuk merenung: apakah selama ini kita benar-benar adil, atau justru tanpa sadar ikut membenarkan ketidakadilan?

Oleh: Albertus Dino

Via Artikel
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

Media Sosial

facebook Like
twitter Follow
youtube Langganan
instagram Follow

Featured Post

Mgr. Maksimus Regus Luncurkan Dua Buku dalam Syukuran Pengukuhan Guru Besar

Katolik terkini- Mei 16, 2026 0
Mgr. Maksimus Regus Luncurkan Dua Buku dalam Syukuran Pengukuhan Guru Besar
Katolik Terkini - Mgr. Maksimus Regus resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Sosiologi Agama dan Multikulturalisme di Unika St. Paulus Ruteng pada 8…

Most Popular

Rabu Suci: Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan yang Sunyi

Rabu Suci: Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan yang Sunyi

April 01, 2026
Mgr. Maksimus Regus Hadir di Tengah Umat Wetik, Tekankan Peran Keluarga sebagai Gereja Kecil

Mgr. Maksimus Regus Hadir di Tengah Umat Wetik, Tekankan Peran Keluarga sebagai Gereja Kecil

Mei 14, 2026
36 Organisasi Profesi Guru Sepakat Bentuk Forum Koordinasi Nasional di Bawah Kemenag

36 Organisasi Profesi Guru Sepakat Bentuk Forum Koordinasi Nasional di Bawah Kemenag

Mei 08, 2026
Jalan Salib di Balik Jeruji, Uskup Labuan Bajo Hadirkan Harapan bagi Tahanan

Jalan Salib di Balik Jeruji, Uskup Labuan Bajo Hadirkan Harapan bagi Tahanan

April 01, 2026

Editor Post

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

April 12, 2025
Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Januari 20, 2026
Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

April 11, 2025
Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Januari 19, 2026

Popular Post

Rabu Suci: Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan yang Sunyi

Rabu Suci: Antara Kesetiaan dan Pengkhianatan yang Sunyi

April 01, 2026
Mgr. Maksimus Regus Hadir di Tengah Umat Wetik, Tekankan Peran Keluarga sebagai Gereja Kecil

Mgr. Maksimus Regus Hadir di Tengah Umat Wetik, Tekankan Peran Keluarga sebagai Gereja Kecil

Mei 14, 2026
36 Organisasi Profesi Guru Sepakat Bentuk Forum Koordinasi Nasional di Bawah Kemenag

36 Organisasi Profesi Guru Sepakat Bentuk Forum Koordinasi Nasional di Bawah Kemenag

Mei 08, 2026
Jalan Salib di Balik Jeruji, Uskup Labuan Bajo Hadirkan Harapan bagi Tahanan

Jalan Salib di Balik Jeruji, Uskup Labuan Bajo Hadirkan Harapan bagi Tahanan

April 01, 2026

Populart Categoris

  • Berita899
  • Cerpen7
  • Doa83
  • Film20
  • Filsafat11
  • Internasional362
  • Jelajah115
  • Lifestyle205
  • Nasional145
  • Pelayanan Sosial127
  • Puisi2
  • Refleksi370
  • Sosok318
  • Teologi70
Katolik Terkini

Tentang Kami

Katolik Terkini adalah platform berita online independen yang memiliki komitmen kuat untuk menyajikan informasi, berita, dan data seputar Gereja Katolik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kontak kami: katolikterkini@gmail.com

Follow Us

© KATOLIK TERKINI oleh Katolik Terkini
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Daftar Isi Katolik Terkini