Buku Baru Petrus Tan: Membaca Ulang Meritokrasi dalam “Tirani Meritokrasi dan Gerakan Murka Demokrasi"
Katolik Terkini - Buku Tirani Meritokrasi dan Gerakan Murka Demokrasi karya Petrus Tan mencoba menjelaskan kenapa banyak orang hari ini merasa marah, kecewa, dan tidak percaya pada sistem demokrasi.
Buku ini ditulis di tengah situasi sosial yang panas, termasuk kerusuhan di Jakarta pada Agustus 2025. Namun, penulis tidak hanya melihat masalah dari sisi ekonomi atau politik, melainkan dari sisi moral, yaitu cara kita memandang “kesuksesan” dan “kegagalan”.
Salah satu gagasan utama dalam buku ini adalah kritik terhadap meritokrasi. Meritokrasi adalah keyakinan bahwa orang yang berhasil itu karena usaha dan kemampuannya sendiri, sehingga mereka pantas mendapatkan lebih. Sebaliknya, orang yang gagal sering dianggap salahnya sendiri.
Dengan mengikuti pemikiran Michael Sandel, Petrus Tan menunjukkan bahwa cara berpikir seperti ini bisa berbahaya. Ia bisa membuat orang yang sukses menjadi sombong, dan orang yang gagal merasa rendah diri. Akibatnya, jarak antara orang kaya dan miskin tidak hanya soal uang, tetapi juga soal harga diri dan rasa kemanusiaan.
Buku ini juga menjelaskan bahwa dulu meritokrasi adalah ide yang baik, karena ingin melawan sistem feodalisme yang tidak adil. Namun sekarang, ide ini sering dipakai untuk membenarkan ketimpangan sosial. Orang-orang yang berkuasa bisa mengatakan bahwa posisi mereka memang pantas, sementara yang di bawah dianggap kurang berusaha. Di sinilah meritokrasi berubah menjadi semacam “tirani” yang tidak terlihat.
Selain membahas teori, buku ini juga memperkaya argumennya dengan pandangan para pemikir. Menurut Prof. Dr. F. Budi Hardiman, buku ini menarik karena melihat meritokrasi dari sisi yang jarang dibahas. Di Indonesia, kita sering menuntut meritokrasi untuk melawan nepotisme dan korupsi.
Namun, buku ini justru menunjukkan bahwa meritokrasi juga bisa dipakai untuk membenarkan ketimpangan. Dari sini muncul pertanyaan penting: apakah kita masih bisa mengandalkan meritokrasi sebagai solusi, atau perlu mencari pendekatan lain yang lebih manusiawi?
Sementara itu, Dr. phil. Norbertus Jegalus menyoroti persoalan keadilan. Ia menjelaskan bahwa keadilan tidak cukup hanya dilihat sebagai pembagian hasil, seperti yang diajarkan oleh Aristoteles, Thomas Aquinas, dan John Rawls.
Buku ini menawarkan gagasan keadilan partisipasi, yaitu setiap orang harus punya kesempatan untuk ikut berkontribusi dalam masyarakat. Namun, gagasan ini masih menimbulkan pertanyaan: bagaimana cara menerapkannya dalam kehidupan nyata?
Menurut Prof. Justinus Sudarminta, buku ini membantu kita memahami bahwa meritokrasi bisa menciptakan ketidakadilan jika tidak memperhatikan kondisi nyata masyarakat. Keadilan sosial hanya bisa terwujud jika perbedaan dalam masyarakat benar-benar diperhitungkan. Namun, tantangannya adalah bagaimana membuat kebijakan yang adil tanpa menimbulkan ketimpangan baru.
Sedangkan Prof. F.X. Eko Armada Riyanto melihat bahwa dalam praktiknya, meritokrasi di tangan kelompok berkuasa justru merusak kesetaraan. Ia bahkan menilai meritokrasi bisa menjadi ancaman bagi keadilan, transparansi, dan akuntabilitas demokrasi. Meski begitu, pandangan ini juga mengajak kita bertanya: apakah yang salah adalah meritokrasinya, atau cara manusia menggunakannya?
Secara keseluruhan, buku ini tidak selalu mudah dipahami dan belum memberikan solusi yang sangat jelas. Namun, buku ini tetap penting karena membuka cara pandang baru. Ia mengajak kita melihat bahwa masalah demokrasi bukan hanya soal sistem, tetapi juga soal nilai-nilai seperti solidaritas, empati, dan rasa kebersamaan.
Pada akhirnya, buku ini mengajak kita untuk merenung: apakah selama ini kita benar-benar adil, atau justru tanpa sadar ikut membenarkan ketidakadilan?
Oleh: Albertus Dino

Posting Komentar