Kardinal Pizzaballa: Umat Kristen di Tanah Suci Lelah dan Hanya Inginkan Perdamaian
Katolik Terkini – Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, mengatakan umat Kristen di Tanah Suci telah kelelahan menghadapi konflik yang berkepanjangan dan hanya menginginkan perdamaian. Menurutnya, situasi yang terus berada di antara "tidak ada perang, tetapi juga tidak ada damai" telah menumbuhkan rasa tidak percaya yang semakin dalam di tengah masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Kardinal Pizzaballa saat berada di Assisi, Italia, untuk menghadiri kunjungan pastoral Paus Leo XIV sekaligus peresmian Global House of Friendship and Hope, sebuah proyek internasional yang diprakarsai Elijah Interfaith Institute. Dalam wawancara dengan Vatican Media pada Kamis (6/8/2026), ia juga menyinggung pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober mendatang.
Menurut Kardinal Pizzaballa, banyak pihak berharap pemilu dapat membawa solusi bagi persoalan di Timur Tengah. Namun, ia menilai akar konflik di kawasan tersebut tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat.
"Semua orang menaruh harapan pada pemilu seolah-olah itu akan menyelesaikan semua persoalan. Padahal, masalah-masalah di Timur Tengah membutuhkan waktu yang panjang. Kita membutuhkan wajah-wajah baru dan para pemimpin baru," ujarnya.
Ia menggambarkan situasi di Yerusalem saat ini sebagai kondisi yang penuh ketegangan. Meski tidak lagi terjadi pemboman besar-besaran seperti sebelumnya, kekerasan masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Gaza, Tepi Barat, Israel, dan Palestina.
Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat masyarakat semakin sulit mempercayai kabar baik. Berulang kali harapan akan tercapainya kesepakatan damai pupus oleh perkembangan di lapangan, sehingga rasa skeptis terus menguat.
Meski demikian, Kardinal Pizzaballa menegaskan bahwa harapan belum sepenuhnya hilang. Ia mengaku masih menjumpai banyak orang, baik kaum muda maupun orang dewasa, yang tetap berupaya membangun dialog, melindungi sesama, dan mempererat hubungan antarkomunitas meski harus menghadapi berbagai risiko.
"Mereka adalah tanda bahwa masyarakat masih memiliki daya tahan terhadap virus kekerasan," katanya.
Mengenai kondisi Paroki Keluarga Kudus di Gaza yang sempat terdampak serangan beberapa bulan lalu, Kardinal Pizzaballa mengatakan sebanyak 541 orang masih berlindung di kompleks tersebut. Gereja kini berupaya memulihkan kehidupan komunitas dengan membuka kembali sekolah, mendirikan pusat kesehatan, serta menyelenggarakan berbagai kegiatan bagi anak-anak, tanpa membedakan latar belakang agama mereka.
Ia mengungkapkan kekhawatiran terbesar saat ini adalah jika masyarakat terus terjebak dalam situasi yang tidak jelas, ketika berbagai solusi hanya dibicarakan tanpa diwujudkan secara nyata. Menurutnya, kondisi tersebut dapat memupuk sikap sinis dan mengikis kepercayaan masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Kardinal Pizzaballa juga menyoroti pentingnya peran kaum muda sebagai harapan masa depan. Ia mengajak semua pihak untuk berinvestasi pada generasi muda agar mereka dapat membangun masa depan yang lebih baik daripada yang diwariskan generasi sebelumnya.
Mengenai kemungkinan kunjungan Paus Leo XIV ke Tanah Suci, ia mengatakan Paus terus mengikuti perkembangan situasi dan menunjukkan kedekatan dengan umat di kawasan tersebut. Namun, menurutnya, kunjungan kepausan baru dapat terlaksana ketika situasi sudah lebih tenang dan kondusif.
Menjelang peringatan 40 tahun Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang diprakarsai Santo Yohanes Paulus II di Assisi pada 1986, Kardinal Pizzaballa berharap momentum tersebut tidak hanya menjadi ajang mengenang masa lalu, tetapi menjadi awal perjalanan baru untuk memperkuat dialog antaragama dan membangun perdamaian yang nyata di tengah dunia yang masih dilanda konflik.(AD)

Posting Komentar