Dimensi Mistik Senyuman dalam hidup Kristiani
Oleh : Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM - Filipina, 8 April 2026
Katolik Terkini - Dalam konteks hidup spiritual atau ketika orang menghidupi ajaran suatu agama, dimensi mistik sering kali dihubungkan dengan pengalaman rohani, hasil bermeditasi, atau acara ritual yang memungkinkan seseorang berhubungan dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya, entah itu disebut Tuhan, alam semesta, atau energi spiritual. Tindak tanduknya diarahkan oleh relasi rohani dengan Tuhan yang diimani, alam semesta, atau energi spiritualnya.
Refleksi kami kali ini berkenaan dengan dimensi mistik sebuah senyuman. Hal tersenyum merupakan tindakan yang biasa, namun bermakna istimewa dalam konteks eksistensi manusia. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa senyuman adalah milik khas manusia yang sehat mental dan rohaninya. Panggilan untuk mengikuti Kristus adalah panggilan untuk mengembangkan diri kita menjadi manusia yang sehat secara mental, jiwa, dan rohani.
Dalam terang merayakan kebangkitan Kristus, kita dipanggil untuk membuat kehidupan sesama manusia bangkit dan bertumbuh menjadi lebih baik; membuat alam ciptaan-Nya dirawat dan dikembangkan, bukan sebaliknya hidup di bawah kuasa kegelapan yang tampak dalam tindakan memusuhi orang, berperang, usaha jahat meniadakan kehidupan orang lain, dan ketiadaan kepedulian merawat lingkungan hidup.
Tindakan-tindakan seperti ini muncul dari orang-orang yang tidak memiliki senyum tulus, tetapi hanya memiliki perbendaharaan “ciuman pengkhianatan” Yudas Iskariot. Secara psikologis, senyuman tidak hanya menjadi ungkapan kebahagiaan, tetapi juga mencerminkan kesejahteraan mental serta kemampuan seseorang dalam mengelola emosinya. Mereka yang merasa aman dan terhubung dengan lingkungannya umumnya lebih mampu menghadirkan afeksi positif dalam relasi.
Senyuman–Tertawa: Bagian Utuh Kepribadian Manusia
Ada yang berpendapat bahwa hidup kita adalah sebuah “The Journey of Hope”. Artinya, kehidupan dipahami sebagai sebuah perjalanan (journey) yang digerakkan oleh energi spiritual yang kita sebut harapan (hope). Hidup kita bukanlah milik kita sendiri. Hampir semua tradisi keagamaan mengajarkan bahwa kehidupan diberikan, dianugerahkan kepada manusia pada saat penciptaannya.
Salah satu dimensi kehidupan yang jarang direfleksikan ialah senyuman, bahkan hingga tertawa. Senyuman dan tertawa adalah bagian utuh dari kepribadian manusia. Bahkan ditegaskan bahwa senyuman dan tertawa merupakan bagian dari anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Di situlah kita memahami bahwa senyuman memiliki dimensi mistiknya: mengembangkan energi positif yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Maka ketika kita tersenyum, saat itulah kita mengembangkan dimensi mistik ini. Pertanyaannya: dapatkah kita tersenyum dan tertawa? Seberapa sering senyuman dan tertawa menghiasi hari-hari kehidupan kita dalam keluarga, komunitas karya, komunitas religius, Gereja, dan masyarakat?
Kalau tersenyum serta tertawa adalah tanda kebahagiaan dan kegembiraan manusiawi, tampaknya terasa aneh bahwa jarang sekali khazanah seni religius kekristenan memperlihatkan Yesus Kristus sebagai seorang manusia yang tertawa atau tersenyum. Tidak satu pun dari keempat penginjil mencatat bahwa Ia tertawa atau tersenyum.
Para penginjil pernah mencatat bahwa Yesus marah kepada pedagang-pedagang di halaman Bait Allah (bdk. Luk 19:45-46; Yoh 2:13-17); pernah juga marah kepada Petrus (bdk. Mat 16:23; Mrk 8:33); serta pernah sedih hingga menangis karena kematian Lazarus (bdk. Yoh 11:33-35). Namun tidak ditemukan kisah yang secara eksplisit menuturkan Yesus tertawa atau tersenyum. Apakah dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Yesus adalah manusia yang tidak bahagia, tidak bergembira?
Tentu saja tidak. Yesus hadir sebagai manusia di dunia ini untuk menghadirkan kasih Bapa. Ia datang agar manusia mengalami kasih Allah. Maka hidup dan karya Yesus dipenuhi tindakan kasih, bukan tindakan menghakimi tanpa belas kasih. Yesus justru mengusahakan agar orang-orang sederhana dan orang berdosa tidak dikucilkan dan dibiarkan sendirian. Ia merangkul mereka; Ia menerima mereka sebagai murid-murid-Nya. Memang para penginjil tidak melukiskan secara eksplisit sisi kepribadian Yesus yang tersenyum atau tertawa.
Suku Indian Apache di Amerika memandang tertawa sebagai esensi dari menjadi manusia yang hidup. Pandangan itu berdasar pada kisah penciptaan menurut tradisi lisan suku ini. Tentang penciptaan manusia, Suku Apache menuturkan bahwa Sang Pencipta menyiapkan manusia pertama untuk hidup. Ia memberikan kepada manusia itu kemampuan untuk berbicara, berjalan dan berlari, berpikir dan merencanakan, memandang dan mendengarkan.
Semua hal itu dipandang-Nya baik, tetapi Sang Pencipta merasa masih ada sesuatu yang penting yang hilang. Maka Sang Pencipta menaruh roh kehidupan pada manusia ciptaan-Nya hingga manusia itu dapat melakukan satu hal ini, yakni tersenyum hingga tertawa. Maka manusia itu tersenyum… tertawa… tertawa… dan tertawa. Kemudian Sang Pencipta berkata: “Kini akhirnya engkau, hai manusia, siap untuk hidup.”
Kiat-kiat Menghadapi Beragam Peristiwa Hidup
Kita memang diciptakan untuk hidup dalam kegembiraan, tetapi kita tidak diminta untuk menyambut setiap peristiwa hidup dengan tertawa. Dalam dunia yang penuh dengan peristiwa menyedihkan dan yang melukai, sukacita yang bebas tidak selalu mudah dialami. Namun, senyuman diakui sebagai ungkapan paling umum dari orang yang hidup dalam kegembiraan, bukan langsung dalam tertawa.
Tindakan tersenyum tampak pada wajah manusia. Ketika manusia tersenyum, ia menggerakkan sudut-sudut bibirnya melengkung ke atas, disertai dengan kerdipan mata yang cerah dan damai. Karena itu, senyuman sesungguhnya menyampaikan pesan kepada orang lain melalui wajah: pesan persahabatan, kesukaan, kegembiraan, rasa terhibur, serta rasa menikmati perjumpaan.
Dalam penelitian psikologi, senyuman merupakan salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang berperan penting dalam membangun relasi sosial. Senyuman tidak hanya menyampaikan rasa penerimaan, tetapi juga dapat memunculkan penyebaran emosi serupa pada orang lain yang sering disebut emotional contagion.
Hal ini terjadi karena senyuman memicu sistem neuron tertentu sehingga menghasilkan sinkronisasi respons emosional, yang kemudian meningkatkan persepsi kehangatan serta memperkuat ikatan sosial. Maka dari itu, senyuman berperan sebagai mekanisme penting dalam membangun kedekatan dan rasa aman dalam perjumpaan antar manusia.
Murid-murid Yesus dari Galilea tidak pernah mencatat bahwa Sang Guru tersenyum, sebaliknya murid-murid Buddha dengan penuh gembira membicarakan senyuman Sang Buddha. Lukisan-lukisan dan patung-patung Buddha memperlihatkan Ia tersenyum, tidak seperti gambaran wajah Kristus yang agung. Wajah tersenyum amat jarang ditemukan dalam lukisan orang-orang kudus atau figur Sang Penyelamat. Sebaliknya, para ahli Buddhis secara teliti membedakan berbagai model senyuman Buddha.
Katalog Tersenyum hingga Tertawa
Para ahli Buddhis mendaftarkan enam kelas senyuman hingga tertawa, dari yang paling lembut hingga yang paling bebas dan keras. Mereka mulai dengan sita, senyum lembut yang hampir tak terdeteksi gerakan bibirnya; kemudian hasita, senyuman yang melibatkan gerakan bibir sangat ringan dengan sekilas memperlihatkan gigi; vihasita, senyuman lebar yang bahkan bisa diiringi tawa.
Selanjutnya upahasita, senyuman yang melebar ke seluruh wajah hingga tertawa lepas; apahasita, senyuman yang disertai tawa keras hingga air mata keluar; dan terakhir atihasita, tertawa terpingkal-pingkal hingga menggerakkan seluruh tubuh.
Katalog senyuman dalam tradisi Buddhis ini dipengaruhi oleh idealisme yang menampilkan struktur sosial tertentu dalam masyarakat aristokrat dan feodal. Senyuman kategori pertama dan kedua dianggap cocok bagi kalangan berstatus sosial tinggi. Dalam lingkaran ini, Buddha digambarkan dengan senyuman ringan, lembut, dan hampir tak terlihat—itulah senyuman sita. Jika para seniman melukiskan Yesus yang bergembira, tentu mereka tidak akan membatasi ekspresi-Nya pada senyuman sita saja. Adapun senyuman yang disertai tawa biasanya diasosiasikan dengan kelompok pekerja keras seperti petani atau tukang bangunan.
Kita mengetahui dari kisah Injil bahwa Yesus dari Nazaret bukan bagian dari kalangan aristokrat; Ia berasal dari keluarga tukang kayu, karena Yosef, ayah-Nya, adalah seorang tukang kayu. Ia banyak bergaul dengan para petani, sehingga dalam pengajaran-Nya Ia sering menggunakan perumpamaan yang akrab dengan dunia pertanian dan kehidupan para pekerja keras. Maka masuk akal bila dikatakan bahwa ketika Yesus tertawa, Ia tidak hanya tersenyum, tetapi juga dapat tertawa lepas dan gembira. Tindakan itu tentu tidak mengurangi kekudusan-Nya, yaitu kesatuan-Nya yang erat dengan Allah Bapa.
Sementara tradisi kekristenan kurang memiliki gambaran santo yang tertawa atau tersenyum secara eksplisit, Buddhisme memiliki tokoh terkenal yang digambarkan bahagia, kudus, tua, dan gemuk, dengan perut besar, yakni Pu-Tai. Buddha tertawa ini sering ditemukan dalam bentuk patung di depan pintu masuk restoran-restoran Cina. Ia selalu digambarkan tertawa dengan penuh semangat, seperti tokoh Buddhis lain yang kudus, Han-Shan dan Shih Te.
Tradisi tentang Pu-Tai mengisahkan bagaimana ia melanggar aturan biara yang melarang berjalan-jalan di ruang publik. Ia keluar biara dan turun ke jalan sambil menari, mendengar musik keras, serta bermain dengan anak-anak di desa. Ia menyenangkan mereka dengan tingkah jenaka yang penuh kegembiraan serta humor yang mengundang tawa.
Pu-Tai sebagai seorang bijak dan kudus menyadari bahwa godaan terbesar bagi orang yang hidup di biara atau masyarakat adalah keinginan untuk dihormati atau menjadi orang penting. Ia tidak peduli dengan hal itu, meskipun penampilannya tidak mencerminkan kesan “kudus” secara lahiriah. Ia bahkan membiarkan dirinya menjadi bahan tertawaan anak-anak dan remaja.
Dengan melawak sambil tertawa ria, ia mencapai kebebasan batin dalam kekudusan yang dicarinya. Penelitian psikologi dan neurosains menunjukkan bahwa aktivitas sederhana seperti tersenyum dapat memengaruhi kondisi biologis tubuh, termasuk meningkatkan produksi hormon yang berperan dalam memunculkan perasaan bahagia dan relaksasi.
Melalui proses ini, senyuman dapat membantu memperbaiki suasana hati dan memperkuat kedekatan. Maka dari itu, senyum bukan hanya ekspresi lahiriah, tetapi juga cara sederhana yang menumbuhkan kesehatan mental dan kehangatan dalam hidup bersama.
Mengakhiri refleksi ini, kita semua diajak untuk tidak melewatkan hari-hari kita tanpa tersenyum ataupun tertawa. Dalam tindakan tersenyum dan tertawa, terdapat benih kesehatan jiwa, mental, dan rohani yang bertumbuh. Leigh Hunt berkata: “Colors are the smile of nature.” Warnailah hidupmu dengan dimensi mistik sebuah senyuman.
Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM - Filipina, 8 April 2026
.png)
Sungguh indahnya senyuman yg tulus dari Mgr
BalasHapusTerimakasih Mgr. Paskalis. Senyuman khas dan unik memiliki karakter yg beraneka-ragam. Terkadang senyuman ditentukan keikhlasan dan ketulusan hati. Semua orang bisa tersenyum tapi tidak semua orang mengungkapkan senyuman sebagai warga kabar gembira sebagaimana nasehat Injil. Terimakasih, semoga kami belajar senyum yg tulus dan ikhlas. Amin
BalasHapus