-->
Telusuri
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • Sosok
  • Humaniora
    • Humaniora
  • Refleksi
  • Lifestyle
  • Travelling
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
Katolik Terkini
Beranda Berita Inspirasi Nasional Sosok Romo Robertus Pelita, Pejuang Pertanian Organik dari Waning yang Masuk Nominasi Satya Pangan Loka
Berita Inspirasi Nasional Sosok

Romo Robertus Pelita, Pejuang Pertanian Organik dari Waning yang Masuk Nominasi Satya Pangan Loka

Katolik terkini
Katolik terkini
09 Agu, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Romo Robertus Pelita Pr., imam keuskupan Labuan Bajo 

Katolik Terkini — Dari lahan pertanian di Desa Waning, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Romo Robertus Pelita mendorong para petani untuk mengubah cara bertani menjadi lebih ramah lingkungan.

Upayanya selama bertahun-tahun kini mendapat perhatian lebih luas. Pastor berusia 57 tahun itu terpilih sebagai salah satu nominasi Penghargaan Satya Pangan Loka, yang diberikan kepada para Pahlawan Pangan Pilihan Publik.

Bagi Romo Robert, pencalonan tersebut bukan sekadar penghargaan pribadi. Di dalamnya terdapat cerita tentang para petani yang ia dampingi untuk membangun pertanian yang lebih mandiri, hemat biaya, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Romo Robert merupakan lulusan S1 Filsafat yang selama ini aktif berkarya melalui Keuskupan Ruteng. Selain menjalankan karya pastoral, ia terlibat dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Perhatiannya terhadap lingkungan telah tumbuh sejak masa kuliah, ketika ia mulai menaruh perhatian pada isu pembangunan berkelanjutan. Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi aksi nyata setelah ia dipercaya sebagai Ketua Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Ruteng pada 2019.

Sejak saat itu, ia mendorong pengembangan pertanian organik dengan memperkenalkan dan memadukan sejumlah metode, antara lain JADAM, Eco Enzyme, dan Biosaka.

Pendekatannya sederhana, mengajak petani memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia.

Mengubah Cara Bertani dari Lahan

Pendampingan tidak dilakukan sebatas sosialisasi. Romo Robert turun langsung ke lahan dan mengajak petani mempraktikkan metode yang diperkenalkan.

Pengalaman di lapangan kemudian menjadi cara penting untuk meyakinkan petani bahwa pertanian organik dapat diterapkan tanpa harus bergantung pada input yang mahal.

Metode tersebut diterapkan pada berbagai komoditas, mulai dari padi, cengkeh, kopi hingga sacha inchi.

Dari pendampingan itu terbentuk dua kelompok tani organik di Paroki Waning yang kini melibatkan sekitar 50 petani aktif. Mereka mulai mengurangi penggunaan input kimia, sekaligus berupaya meningkatkan kualitas hasil panen dan memulihkan kesuburan tanah.

Sebagian petani bahkan berkembang menjadi agen perubahan. Mereka membagikan pengalaman kepada masyarakat lain dan ikut memperkenalkan pertanian organik di lingkungannya.

Praktik yang berkembang di Waning kemudian mendapat perhatian lebih luas. Pengalaman penerapan JADAM, Eco Enzyme, dan Biosaka menjadi rujukan dalam forum Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Romo Robert juga berencana mengembangkan lahan paroki sebagai kebun percontohan pertanian organik. Lahan itu diharapkan menjadi ruang belajar bagi petani dan masyarakat untuk melihat langsung penerapan pertanian organik yang sesuai dengan kondisi lokal.

Dari Waning ke Forum Nasional

Perjalanan tersebut kini membawa nama Romo Robert ke panggung Penghargaan Satya Pangan Loka.

Para kandidat penghargaan telah melalui proses seleksi oleh Dewan Juri berdasarkan dedikasi dan kontribusi nyata dalam memajukan pertanian serta ketahanan pangan di Indonesia. Namun, penerima penghargaan ditentukan berdasarkan perolehan suara terbanyak dari publik.

Pemilihan publik berlangsung hingga 17 Agustus 2026 melalui kanal digital Metro TV dan Pupuk Indonesia.

Bagi Romo Robert, nominasi ini sekaligus menjadi kesempatan untuk membawa suara para petani yang selama ini ia dampingi.

Dari Waning, sebuah gerakan kecil tentang cara bertani perlahan berkembang menjadi cerita yang lebih luas, bahwa menjaga pangan tidak hanya berarti menghasilkan panen, tetapi juga merawat tanah, membangun kemandirian petani, dan memastikan pertanian tetap hidup untuk generasi berikutnya.(AD)

Via Berita
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

Media Sosial

facebook Like
twitter Follow
youtube Langganan
instagram Follow

Featured Post

Wafat di Usia 108 Tahun, Kisah Pastor Benedict Chao Mengajarkan Arti Kesetiaan

Katolik terkini- Agustus 13, 2026 0
Wafat di Usia 108 Tahun, Kisah Pastor Benedict Chao Mengajarkan Arti Kesetiaan
Katolik Terkini - Ada orang yang dikenang karena apa yang mereka capai. Ada pula orang yang dikenang karena apa yang mereka tetap lakukan ketika segala sesuat…

Most Popular

Menjadi Katolik Tanpa Takut pada yang Berbeda

Menjadi Katolik Tanpa Takut pada yang Berbeda

Agustus 07, 2026
Perdalam TPE 2020, Paroki Santo Yoseph Palembang Bekali 96 Pelayan Musik Liturgi

Perdalam TPE 2020, Paroki Santo Yoseph Palembang Bekali 96 Pelayan Musik Liturgi

Agustus 07, 2026
Romo Robertus Pelita, Pejuang Pertanian Organik dari Waning yang Masuk Nominasi Satya Pangan Loka

Romo Robertus Pelita, Pejuang Pertanian Organik dari Waning yang Masuk Nominasi Satya Pangan Loka

Agustus 09, 2026
Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Agustus 06, 2026

Editor Post

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

April 12, 2025
Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Januari 20, 2026
Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Januari 19, 2026
Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

April 11, 2025

Popular Post

Menjadi Katolik Tanpa Takut pada yang Berbeda

Menjadi Katolik Tanpa Takut pada yang Berbeda

Agustus 07, 2026
Perdalam TPE 2020, Paroki Santo Yoseph Palembang Bekali 96 Pelayan Musik Liturgi

Perdalam TPE 2020, Paroki Santo Yoseph Palembang Bekali 96 Pelayan Musik Liturgi

Agustus 07, 2026
Romo Robertus Pelita, Pejuang Pertanian Organik dari Waning yang Masuk Nominasi Satya Pangan Loka

Romo Robertus Pelita, Pejuang Pertanian Organik dari Waning yang Masuk Nominasi Satya Pangan Loka

Agustus 09, 2026
Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Agustus 06, 2026

Populart Categoris

  • Berita963
  • Cerpen7
  • Doa88
  • Film20
  • Filsafat11
  • Internasional368
  • Jelajah115
  • Lifestyle210
  • Nasional167
  • Pelayanan Sosial139
  • Puisi2
  • Refleksi389
  • Sosok326
  • Teologi73
Katolik Terkini

Tentang Kami

Katolik Terkini adalah platform berita online independen yang memiliki komitmen kuat untuk menyajikan informasi, berita, dan data seputar Gereja Katolik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kontak kami: katolikterkini@gmail.com

Follow Us

© KATOLIK TERKINI oleh Katolik Terkini
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Daftar Isi Katolik Terkini