Romo Robertus Pelita, Pejuang Pertanian Organik dari Waning yang Masuk Nominasi Satya Pangan Loka
![]() |
| Romo Robertus Pelita Pr., imam keuskupan Labuan Bajo |
Katolik Terkini — Dari lahan pertanian di Desa Waning, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Romo Robertus Pelita mendorong para petani untuk mengubah cara bertani menjadi lebih ramah lingkungan.
Upayanya selama bertahun-tahun kini mendapat perhatian lebih luas. Pastor berusia 57 tahun itu terpilih sebagai salah satu nominasi Penghargaan Satya Pangan Loka, yang diberikan kepada para Pahlawan Pangan Pilihan Publik.
Bagi Romo Robert, pencalonan tersebut bukan sekadar penghargaan pribadi. Di dalamnya terdapat cerita tentang para petani yang ia dampingi untuk membangun pertanian yang lebih mandiri, hemat biaya, sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.
Romo Robert merupakan lulusan S1 Filsafat yang selama ini aktif berkarya melalui Keuskupan Ruteng. Selain menjalankan karya pastoral, ia terlibat dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat dan pelestarian lingkungan.
Perhatiannya terhadap lingkungan telah tumbuh sejak masa kuliah, ketika ia mulai menaruh perhatian pada isu pembangunan berkelanjutan. Gagasan tersebut kemudian berkembang menjadi aksi nyata setelah ia dipercaya sebagai Ketua Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Ruteng pada 2019.
Sejak saat itu, ia mendorong pengembangan pertanian organik dengan memperkenalkan dan memadukan sejumlah metode, antara lain JADAM, Eco Enzyme, dan Biosaka.
Pendekatannya sederhana, mengajak petani memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia.
Mengubah Cara Bertani dari Lahan
Pendampingan tidak dilakukan sebatas sosialisasi. Romo Robert turun langsung ke lahan dan mengajak petani mempraktikkan metode yang diperkenalkan.
Pengalaman di lapangan kemudian menjadi cara penting untuk meyakinkan petani bahwa pertanian organik dapat diterapkan tanpa harus bergantung pada input yang mahal.
Metode tersebut diterapkan pada berbagai komoditas, mulai dari padi, cengkeh, kopi hingga sacha inchi.
Dari pendampingan itu terbentuk dua kelompok tani organik di Paroki Waning yang kini melibatkan sekitar 50 petani aktif. Mereka mulai mengurangi penggunaan input kimia, sekaligus berupaya meningkatkan kualitas hasil panen dan memulihkan kesuburan tanah.
Sebagian petani bahkan berkembang menjadi agen perubahan. Mereka membagikan pengalaman kepada masyarakat lain dan ikut memperkenalkan pertanian organik di lingkungannya.
Praktik yang berkembang di Waning kemudian mendapat perhatian lebih luas. Pengalaman penerapan JADAM, Eco Enzyme, dan Biosaka menjadi rujukan dalam forum Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Romo Robert juga berencana mengembangkan lahan paroki sebagai kebun percontohan pertanian organik. Lahan itu diharapkan menjadi ruang belajar bagi petani dan masyarakat untuk melihat langsung penerapan pertanian organik yang sesuai dengan kondisi lokal.
Dari Waning ke Forum Nasional
Perjalanan tersebut kini membawa nama Romo Robert ke panggung Penghargaan Satya Pangan Loka.
Para kandidat penghargaan telah melalui proses seleksi oleh Dewan Juri berdasarkan dedikasi dan kontribusi nyata dalam memajukan pertanian serta ketahanan pangan di Indonesia. Namun, penerima penghargaan ditentukan berdasarkan perolehan suara terbanyak dari publik.
Pemilihan publik berlangsung hingga 17 Agustus 2026 melalui kanal digital Metro TV dan Pupuk Indonesia.
Bagi Romo Robert, nominasi ini sekaligus menjadi kesempatan untuk membawa suara para petani yang selama ini ia dampingi.
Dari Waning, sebuah gerakan kecil tentang cara bertani perlahan berkembang menjadi cerita yang lebih luas, bahwa menjaga pangan tidak hanya berarti menghasilkan panen, tetapi juga merawat tanah, membangun kemandirian petani, dan memastikan pertanian tetap hidup untuk generasi berikutnya.(AD)

Posting Komentar