Artikel
Berita
Opini
Refleksi
Gempa Flores dan Tuhan yang Peduli - Menjawab Pertanyaan, Apakah Tuhan Sekejam Itu?
Oleh : RD Stephanus Turibius Rahmat (Dosen Unika Santo Paulus Ruteng, Manggarai, Flores, NTT)
Opini, Katolik Terkini - Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa berkekuatan 7,7 SR mengguncang Flores. Dalam beberapa detik Flores berubah. Rumah roboh, sekolah dan gereja retak, tangis pecah.
Di tengah reruntuhan itu muncul juga bisikan, bahkan klaim yang lama dari pihak tertentu: Ini hukuman Tuhan, Tuhan marah pada Flores, Gempa ini dilakukan Tuhan supaya manusia bertobat.
Pertanyaan yang sama muncul, apakah Tuhan sekejam itu?
Gempa Bukan "Tangan Tuhan yang Menghukum"
Kitab Suci tidak pernah menggambarkan bencana alam sebagai alat Tuhan untuk menyiksa anak-anak-Nya.
Yesus sendiri menolak logika itu. Ketika orang berkata tentang 18 orang yang mati tertimpa menara Siloam, Yesus menjawab, "Sangkamu mereka lebih besar kesalahannya dari pada semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak!... Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa juga," (Luk 13:4-5)
Yesus tidak bilang "mereka dihukum". Dia bilang, "Jangan menuduh. Bertobatlah dan saling menopang."
Gempa, banjir, gunung meletus adalah bagian dari dunia yang "masih dalam proses". Paulus menyebutnya, "Seluruh makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin sampai sekarang," (Rm 8:22). Dunia retak karena dosa, bukan karena Tuhan kejam.
Konsep Teodise Katolik: Allah yang Menderita Bersama
Gereja Katolik punya satu kata untuk menjawab penderitaan, Theodise (Membenarkan Allah). Bagaimana Allah yang Mahabaik bisa membiarkan penderitaan?
Jawabannya bukan teori. Jawabannya adalah Salib.
Allah tidak jauh, Allah masuk ke dalam penderitaan. "Ia menghampiri orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya," (Mzm 34:19).
Di Flores, Allah tidak menonton dari surga. Dia ada di tenda pengungsian. Wajah-Nya ada di wajah relawan. Tangan-Nya ada di tangan yang membagi nasi bungkus.
Seperti Kristus: tidak mencegah salib, tapi naik ke salib bersama kita.
Allah berpihak pada yang lemah. Sepanjang Kitab Suci, Tuhan selalu berpihak pada korban. "TUHAN adalah tempat perlindungan bagi orang yang terinjak, tempat perlindungan pada waktu kesesakan," (Mzm 9:10.
"Apabila orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya," (Mzm 34:18).
Allah selalu berpihak pada korban. Sepanjang Kitab Suci polanya sama: Allah membela yang lemah. "Ia menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar," (Mzm 146:8.
"Berbahagialah yang berdukacita, karena mereka akan dihibur," (Mat 5:4).
Tuhan tidak pernah bersukacita melihat anak-Nya terluka. Buktinya? Dia mengutus Putra-Nya sendiri untuk menderita bersama kita di kayu salib.
Allah bukan penyebab luka. Allah adalah penghibur dalam luka. Allah tidak perlu merobohkan rumah untuk membuat kita bertobat. Dia cukup berbisik di hati, "Kembalilah kepada-Ku".
Lihat siapa yang pertama datang: Uskup, Pastor, Suster, relawan, pemerintah, dokter dan tenaga medis, TNI dan Polri, serta tetangga. Itulah tangan Tuhan yang sedang bekerja.
Allah memberi kebebasan dan kekuatan. Tuhan tidak menciptakan robot. Bumi punya hukum alam, lempeng bergerak. Tapi Tuhan memberi kita akal untuk membangun rumah tahan gempa, hati untuk saling menolong, dan iman untuk tidak putus asa.
Penderitaan tidak menjelaskan Allah. Salib menjelaskan penderitaan.
Jadi Siapa Tuhan di Tengah Gempa Flores
Bukan Tuhan yang "melakukan gempa". Tapi Tuhan yang melakukan ini. Pertama, Tuhan yang Menangis Bersama.
Yesus menangis di depan makam Lazarus - Yohanes 11:35. Dia menangis juga bersama orang-orang Flores yang kehilangan orang-orang tercinta.
Kedua, Tuhan yang Menggerakkan Compassio. Cum-patior, menderita bersama. Mgr. Maksimus menghentikan penutupan Festival Golo Koe 2026. Mgr. Budi dan Mgr. Sipri turun ke tenda, ada bersama para korban. Ganjar dan Risma datang lebih dengan korban. Pemerintah dan komunitas-komunitas, caritas Keuskupan membuka dapur umum.
Itu bukan kebetulan. Itu Roh Kudus yang menggerakkan hati manusia untuk menjadi tangan Tuhan.
Ketiga, Tuhan yang Memberi Harapan Kebangkitan. "Aku adalah kebangkitan dan hidup," (Yoh 11:25.
Gempa merobohkan rumah, tapi tidak bisa merobohkan janji Tuhan: Aku tidak meninggalkanmu. Aku menyediakan tempat. Aku akan membangun kembali.
Jangan Tanya "Untuk Apa", Tanya "Untuk Siapa"
Menuduh Tuhan "kejam" karena gempa, sama seperti menuduh seorang ayah kejam karena anaknya jatuh dari sepeda.
Ayah tidak mendorong. Tapi ayah yang pertama berlari, menggendong, mengobati, dan membangunkan lagi.
Begitulah Allah kita. Gempa Flores tidak membuktikan Tuhan jahat.
Gempa Flores membuktikan, di saat terburuk, belas kasih adalah agama yang paling fasih.
Di setiap tenda hari ini, Tuhan berbisik, "Aku di sini. Aku tidak meninggalkanmu. Aku menderita bersamamu. Dan Aku akan membangun kembali bersamamu."
Flores, kami bersama. Tuhan lebih dekat dari luka kita. Karena Dia bukan Allah yang menjelaskan penderitaan. Dia Allah yang memeluk di tengah penderitaan.
Via
Artikel

Posting Komentar