-->
Telusuri
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • Sosok
  • Humaniora
    • Humaniora
  • Refleksi
  • Lifestyle
  • Travelling
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
Katolik Terkini
Beranda Artikel Berita Nasional Opini BERHENTI MENJADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI
Artikel Berita Nasional Opini

BERHENTI MENJADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI

Katolik terkini
Katolik terkini
04 Agu, 2026 1 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

 

Oleh: RD Stephanus Turibius Rahmat, Imam Keuskupan Labuan Bajo

Opini - Katolik Terkini - 81 tahun. Usia matang. Usia di mana kita seharusnya sudah tahu siapa diri kita dan ke mana arah langkah kita.

Begitu pula Indonesia. Di usia 81 tahun, kemerdekaan tidak cukup dirayakan dengan bendera dan lomba. Tema HUT ke-81, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” menampar kita: sudah berapa lama kita hanya menonton dari pinggir lapangan? Sudah berapa lama kita merasa jadi tamu di rumah sendiri?

Agustus adalah jeda. Jeda untuk melakukan retrospeksi, instrospeksi, dan proyeksi. Jeda untuk berhenti menonton, dan mulai membangun

BERDAULAT: RUMAH KITA MASIH MENYEWA

Berdaulat artinya mandiri. Menentukan pangan, energi, dan teknologi kita sendiri. UUD 1945 Pasal 1 ayat 2 tegas: "Kedaulatan berada di tangan rakyat".

Problem: Dapur kita masih impor. Jan-Mei 2026 impor beras 1,85 juta ton dan migas 12,3 juta barel. Di dunia digital lebih parah. 87% transaksi e-commerce dikuasai platform asing. Data 275 juta orang Indonesia jadi komoditas mereka. Politik kita merdeka, ekonomi kita masih menyewa.

Solusi: Berhenti jadi penonton berarti jadi produsen. Perluas hilirisasi ke pertanian, kelautan, dan farmasi. Bukan hanya nikel. Kuatkan 64,2 juta UMKM lewat regulasi yang berpihak. Di sekolah, "Bangga Buatan Indonesia" harus jadi gaya hidup, bukan slogan. Kedaulatan lahir saat anak muda memilih produk lokal dan percaya karya anak bangsa.

ADIL: TETANGGA KITA MASIH TERTINGGAL

Adil artinya akses yang sama untuk hukum, sekolah, kesehatan, dan peluang. Itu janji Sila ke-5 dan Pasal 27 UUD 1945.

Problem: Jurang masih dalam. Gini Ratio 0,381. 10% orang terkaya kuasai 47% kekayaan nasional. Indeks Persepsi Korupsi 2024 skor 37/100. Di 3T, 30% desa belum 4G. Di Papua rasio dokter 1:3.500. Ada 22,5% pemuda usia 15-24 tahun yang tidak sekolah, tidak kerja, tidak pelatihan. Mereka hilang dari radar pembangunan.

Solusi: Berhenti jadi penonton berarti menuntut negara hadir. Benahi DTKS agar bansos tidak salah alamat. Segera sahkan RUU Perampasan Aset. Hentikan pembangunan Jawa-sentris. Audit Dana Otsus Papua, NTT, Maluku dan libatkan masyarakat adat. Keadilan baru ada ketika anak di Wamena dan anak di Jakarta punya guru, sinyal, dan dokter yang setara.

MAKMUR: GRAFIK NAIK, PERUT MASIH KOSONG

Makmur bukan angka. Makmur adalah ibu di pasar pulang tanpa utang. Makmur adalah lulusan baru tidak takut PHK. Tujuan negara: "memajukan kesejahteraan umum".

Problem: Pertumbuhan Q1 2026 di angka 5,02%. Tapi PHK Jan-Juni 2026 tembus 78 ribu orang. 40% penduduk masih rentan miskin. Tax ratio 10,15% membuat negara kekurangan bahan bakar fiskal. Kita kaya raya, tapi rakyat masih antre sembako.

Solusi: Berhenti jadi penonton berarti ikut bekerja. Percepat reskilling dan upskilling untuk era AI dan energi hijau. Kejar swasembada pangan 2028 berbasis petani, bukan korporasi. Capai target bauran EBT 23% agar lepas dari impor BBM. Reformasi pajak harus adil: kejar pajak digital dan orang kaya. Dana rampasan korupsi kembalikan untuk sekolah dan rumah sakit rakyat.

PENUTUP: DARI PENONTON JADI PEMILIK

Negara tidak dibangun oleh pidato. Negara dibangun oleh guru yang tepat waktu, dokter yang tidak pungli, petani yang tanahnya tidak dirampas, dan pemuda yang tidak apatis.

Edisi HUT ini bertema "Bukan Tamu di Negeri Ini". Tepat. Karena tamu boleh pulang. Tamu tidak cuci piring. Tamu tidak perbaiki atap bocor.

Indonesia bukan hotel. Ini rumah kita.

Berhentilah jadi penonton. Berhentilah jadi tamu. Mulai hari ini jadilah pemilik, perawat, dan tukang yang memperbaiki.

Indonesia Berdaulat, Adil, Makmur bukan hadiah. Ia adalah hasil investasi diam-diam jutaan warga yang memilih tidak diam.

Dirgahayu RI ke-81. Bukan tamu. Ini rumah kita. Mari kita rawat bersama.

Via Artikel
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

1 komentar

  1. Anonim5 Agustus 2026 pukul 18.05

    Saya sudah baca keseluruan tulisan ini,salahnya dimana sampai seperti ini,negeri yg kita bangun bersama selalu pincang dan sakit,kami pendahulu sudah berjuang menanam,menyekolahkan anak,membangun rumah,membeli tanah,menjaga warisan orang tua,dlltapi tetap saja miskin.

    BalasHapus
    Balasan
      Balas
Tambahkan komentar
Muat yang lain...

Media Sosial

facebook Like
twitter Follow
youtube Langganan
instagram Follow

Featured Post

Dekanat Belitang Perkuat Kaderisasi Umat melalui Semangat “Dari Altar ke Pasar”

Katolik terkini- Agustus 11, 2026 0
Dekanat Belitang Perkuat Kaderisasi Umat melalui Semangat “Dari Altar ke Pasar”
MOJOSARI, Katolik Terkini - Komitmen memperdalam spiritualitas sekaligus mendorong keterlibatan aktif umat Katolik dalam kehidupan bermasyarakat menjadi perha…

Most Popular

BERHENTI MENJADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI

BERHENTI MENJADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI

Agustus 04, 2026
Mewujudkan Wajah Belas Kasih Allah, Lima Imam Baru Ditahbiskan di Keuskupan Agung Palembang

Mewujudkan Wajah Belas Kasih Allah, Lima Imam Baru Ditahbiskan di Keuskupan Agung Palembang

Agustus 05, 2026
Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Agustus 06, 2026
 Selendang Persaudaraan dari Seorang Gadis Muslim untuk Bunda Maria

Selendang Persaudaraan dari Seorang Gadis Muslim untuk Bunda Maria

Agustus 04, 2026

Editor Post

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

Gagal ke New York, Guru Muda Ini Justru Temukan Iman Katolik dan Siap Dibaptis

April 12, 2025
Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Antara Hati Nurani dan Politik Opini: Tanggapan Kritis terhadap Surat Terbuka Dua Imam Keuskupan Bogor

Januari 20, 2026
Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Gereja yang Melukai Dirinya Sendiri: Pelajaran dari Keuskupan Bogor

Januari 19, 2026
Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

Modus Baru Perdagangan Manusia Terungkap: Pelaku Menyamar sebagai Misionaris Katolik

April 11, 2025

Popular Post

BERHENTI MENJADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI

BERHENTI MENJADI PENONTON DI NEGERI SENDIRI

Agustus 04, 2026
Mewujudkan Wajah Belas Kasih Allah, Lima Imam Baru Ditahbiskan di Keuskupan Agung Palembang

Mewujudkan Wajah Belas Kasih Allah, Lima Imam Baru Ditahbiskan di Keuskupan Agung Palembang

Agustus 05, 2026
Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Ribuan Umat Sambut Patung Maria Assumpta Nusantara di Paroki Wae Sambi, Devosi dan Budaya Manggarai Berpadu Menuju Festival Golo Koe 2026

Agustus 06, 2026
 Selendang Persaudaraan dari Seorang Gadis Muslim untuk Bunda Maria

Selendang Persaudaraan dari Seorang Gadis Muslim untuk Bunda Maria

Agustus 04, 2026

Populart Categoris

  • Berita961
  • Cerpen7
  • Doa88
  • Film20
  • Filsafat11
  • Internasional367
  • Jelajah115
  • Lifestyle210
  • Nasional167
  • Pelayanan Sosial139
  • Puisi2
  • Refleksi389
  • Sosok325
  • Teologi73
Katolik Terkini

Tentang Kami

Katolik Terkini adalah platform berita online independen yang memiliki komitmen kuat untuk menyajikan informasi, berita, dan data seputar Gereja Katolik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kontak kami: katolikterkini@gmail.com

Follow Us

© KATOLIK TERKINI oleh Katolik Terkini
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Daftar Isi Katolik Terkini