-->
Telusuri
  • Home
  • Berita
    • Nasional
    • Internasional
    • Daerah
  • Sosok
  • Humaniora
    • Humaniora
  • Refleksi
  • Lifestyle
  • Travelling
  • Sastra
    • Puisi
    • Cerpen
Katolik Terkini
Beranda Berita Daerah Nasional Perbarui Komitmen Pelayanan, 23 Imam Muda KAPal Ikuti Ongoing Formation di Banyuasin
Berita Daerah Nasional

Perbarui Komitmen Pelayanan, 23 Imam Muda KAPal Ikuti Ongoing Formation di Banyuasin

Andreas Daris Awalistyo, S.Pd., M.I.Kom
Andreas Daris Awalistyo, S.Pd., M.I.Kom
26 Jun, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
BANYUASIN, Katolik Terkini – Sebanyak 23 imam Diosesan Keuskupan Agung Palembang (KAPal) dengan usia tahbisan di bawah sepuluh tahun (Basepta) mengikuti kegiatan Ongoing Formation (OGF) di Wismalat Podomoro, Banyuasin, pada 9–11 Juni 2026. 

Mengusung tema “Memperbarui Hidup Imamat dalam Kesetiaan, Persaudaraan, dan Pelayanan”, program bina lanjut tingkat keuskupan yang baru pertama kali diadakan ini bertujuan memperkuat spiritualitas dan ikatan persaudaraan para gembala muda di tengah tantangan pastoral modern. 

 Acara dibuka resmi melalui Perayaan Ekaristi oleh Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono, serta dihadiri oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) KAPal Romo Yohanes Kristianto, Ketua Unio KAPal Romo Dominggus Koro, dan Sekretaris Komisi Kerasulan Awam KWI Romo Hans Jeharut selaku narasumber.
Kontekstualisasi Tiga Nasihat Injili dan Tantangan Era Digital Dalam realese Komsos KAPal (komunio.id) yang diterima redaksi Katolik Terkini dijelaskan bahwa Mgr. Yohanes Harun Yuwono mengajak para imam muda menghayati kembali esensi Ketaatan, Kemiskinan, dan Selibat secara kontekstual yang bertajuk “Menghayati Tiga Nasihat Injili”. 

Uskup menegaskan bahwa ketiga kaul ini bukanlah pembatas kebebasan, melainkan fondasi kebahagiaan pelayanan. 
  • Ketaatan (obediencia): Sikap batin yang siap mendengarkan kehendak Allah melalui perutusan Gereja, bukan kepatuhan buta. 
  • Kemiskinan: Sikap lepas bebas dari kelekatan materi agar memiliki hati yang longgar untuk berbagi. 
  • Selibat: Anugerah kebebasan radikal untuk mencintai seluruh umat Allah secara universal tanpa sekat keluarga inti. 
Sementara itu, Romo Hans Jeharut mengingatkan para peserta akan bahaya spiritual di era kecerdasan buatan (AI).

"Risiko terbesar era sekarang bukanlah mesin yang berubah menjadi manusia, melainkan ketika manusia merasa puas hidup seperti mesin serba terprediksi dan teroptimasi, namun kehilangan kemampuan mengasihi," tegas Romo Hans. 

Ia mengingatkan bahwa pelayanan sakramental mutlak membutuhkan kehadiran personal yang nyata, bukan sekadar efisiensi atau popularitas media sosial.
Menepis Sindrom Single Fighter lewat Persaudaraan Sakramental Jarak geografis yang ekstrem di wilayah KAPal (Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jambi) kerap memicu isolasi pastoral dan kelelahan rohani (spiritual dryness). 

Menjawab tantangan ini, Romo Stepanus Supardi membawakan materi “Menghidupi Spiritualitas Persaudaraan”. Ia mengajak para imam menggeser paradigma relasi dari sekadar rekan kerja fungsional menjadi persaudaraan sakramental yang solid. Romo Pardi mengingatkan para imam muda agar tidak terjebak dalam sindrom single fighter menyelesaikan masalah sendirian dan menutup diri. 

Sebaliknya, mereka didorong aktif dalam Panggilan Communio melalui tindakan sederhana sehari-hari di pastoran serta melibatkan umat sebagai mitra pastoral, bukan sekadar objek pelayanan. Pada sesi lain, Ketua Unio KAPal Romo Dominggus Koro menguraikan empat pilar imam diosesan yang berakar pada relasi mendalam dengan Kristus. 

Ia menekankan pentingnya menjaga asupan rohani harian seperti Ekaristi, brevir, dan doa batin agar pelayanan tetap subur dan tangguh memikul salib perutusan bawah wewenang Uskup. 

Refleksi Kritis dan Harapan Keuskupan 


Kegiatan OGF ini juga menjadi ruang diskursus yang jujur bagi para peserta. Romo Andreas Eko Wahyudianto secara terbuka membagikan pergulatan batinnya selama enam tahun imamat, termasuk rasa sepi dan lelah di medan pastoral yang terpencil. Romo Paulus Miki Tobat Mursito turut memberikan refleksi kritis bahwa materi OGF ini menjadi "tamparan" spiritual agar para imam tidak hanya aktif bergerak keluar untuk mewartakan, tetapi pertama-tama menghayati dan tinggal di dalam Kristus.
Vikjen KAPal, Romo Yohanes Kristianto, berharap wadah khusus ini membuat para imam Basepta lebih leluasa bertukar pengalaman sehingga mampu menempatkan diri secara tepat dalam dinamika reksa pastoral keuskupan. Ia juga berharap nilai-nilai dari pertemuan ini dapat terus dievaluasi dan disosialisasikan pada kelompok usia imamat lainnya demi membumikan semangat Gereja Sinodal yang melayani.(*)
Via Berita
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama Tak ada hasil yang ditemukan
Postingan Lebih Baru

Anda mungkin menyukai postingan ini

Posting Komentar

Media Sosial

facebook Like
twitter Follow
youtube Langganan
instagram Follow

Featured Post

Perbarui Komitmen Pelayanan, 23 Imam Muda KAPal Ikuti Ongoing Formation di Banyuasin

Andreas Daris Awalistyo, S.Pd., M.I.Kom- Juni 26, 2026 0
Perbarui Komitmen Pelayanan, 23 Imam Muda KAPal Ikuti Ongoing Formation di Banyuasin
BANYUASIN, Katolik Terkini – Sebanyak 23 imam Diosesan Keuskupan Agung Palembang (KAPal) dengan usia tahbisan di bawah sepuluh tahun (Basepta) mengikuti kegi…

Most Popular

Editor Post

Popular Post

Populart Categoris

  • Berita934
  • Cerpen7
  • Doa87
  • Film20
  • Filsafat11
  • Internasional366
  • Jelajah115
  • Lifestyle207
  • Nasional160
  • Pelayanan Sosial138
  • Puisi2
  • Refleksi384
  • Sosok323
  • Teologi73
Katolik Terkini

Tentang Kami

Katolik Terkini adalah platform berita online independen yang memiliki komitmen kuat untuk menyajikan informasi, berita, dan data seputar Gereja Katolik, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia.

Kontak kami: katolikterkini@gmail.com

Follow Us

© KATOLIK TERKINI oleh Katolik Terkini
  • Disclaimer
  • Kontak Kami
  • Redaksi
  • Iklan
  • Tentang Kami
  • Daftar Isi Katolik Terkini