Pater Paul Denizot Kunjungi Keuskupan Labuan Bajo, Teguhkan Iman tentang Doa bagi Jiwa-Jiwa
![]() |
| Pater Paul Denizot Kunjungi Keuskupan Labuan Bajo |
Katolik Terkini - Dalam suasana masa Prapaskah yang penuh refleksi dan pertobatan, Keuskupan Labuan Bajo menerima kunjungan istimewa dari Pater Paul Denizot, Rektor Komunitas La Fraternite de Montligeon, Prancis, pada 19–22 Maret 2026.
Kunjungan singkat namun bermakna ini menjadi momen penting untuk memperdalam iman umat, khususnya dalam devosi doa bagi keselamatan jiwa-jiwa yang telah meninggal dunia.
Memperkenalkan Spiritualitas Montligeon
Dalam agenda awal kunjungannya, Pater Paul bertemu dengan Uskup Labuan Bajo serta para imam kuria untuk memperkenalkan komunitas yang dipimpinnya, La Fraternite de Montligeon. Komunitas ini dikenal sebagai persekutuan doa yang secara khusus didedikasikan bagi keselamatan jiwa-jiwa orang yang telah meninggal.
Persaudaraan ini memiliki akar sejarah yang kuat, setelah diresmikan oleh Paus Leo XIII pada tahun 1893. Misinya adalah mendoakan jiwa-jiwa di api penyucian, terutama mereka yang terlupakan dan tidak pernah didoakan.
Saat ini, komunitas Montligeon telah berkembang pesat dengan lebih dari 1.250 komunitas yang tersebar di lebih dari 30 negara. Setiap hari, doa-doa dipersembahkan melalui perantaraan Bunda Pembebas kepada Kristus Sang Penyelamat. Selain itu, Ekaristi abadi juga dirayakan setiap hari di Basilika Montligeon, yang menjadi pusat ziarah dan doa bagi keselamatan jiwa-jiwa.
Menegaskan Pentingnya Doa bagi Orang Meninggal
Dalam refleksi imannya, Pater Paul menekankan pentingnya doa bagi orang yang telah meninggal, terutama di tengah dunia modern yang semakin sekular.
“Doa untuk orang yang sudah meninggal sangat penting. Kita memberikan kesaksian bahwa Allah Penyelamat itu ada dan kehidupan kekal disediakan bagi semua orang yang percaya,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa relasi antara yang hidup dan yang telah meninggal tidak terputus.
“Ketika kita mendoakan mereka, mereka juga mendoakan kita. Kita tetap bersatu dalam persaudaraan iman, sebagai Gereja peziarah, Gereja penyucian, dan Gereja jaya.”
Dialog Iman dengan Umat dan Kaum Religius
Selama kunjungannya, Pater Paul menyampaikan refleksi kepada tiga kelompok Utama, yaitu Seminaris Seminari St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo (20 Maret), Komunitas religious, dan komunitas rohani awam (21 Maret)
Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, ia mengupas makna teologis doa bagi jiwa-jiwa dalam kaitannya dengan api penyucian dan eskatologi (kehidupan kekal).
Ia menegaskan bahwa doa bukan sekadar tradisi atau budaya, melainkan harus berakar pada iman, harapan, dan kasih.
“Doa bagi jiwa-jiwa mengungkapkan pengharapan iman akan kehidupan kekal. Doa kita tidak hanya penting bagi mereka, tetapi juga bagi keselamatan kita yang masih hidup.”
Diskusi juga berkembang pada praktik budaya lokal dalam menghormati leluhur. Pater Paul mengapresiasi kekayaan tradisi tersebut, seperti membawa bunga, makanan, atau benda kesayangan ke makam. Namun, ia mengingatkan batas iman Kristiani.
“Kita tidak bisa meminta orang yang sudah meninggal menentukan nasib atau masa depan kita. Hanya Allah yang mengetahui hidup kita. Dan hanya ada satu korban keselamatan, yakni Kristus.”
Ia menegaskan bahwa semua doa harus bermuara pada Kristus sebagai satu-satunya Penyelamat.
Salah satu peserta, Adi Hamut, mengungkapkan rasa syukurnya atas kesempatan ini.
“Refleksi Pater Paul sungguh menjernihkan pemahaman saya. Ia menegaskan bahwa semua doa kita diarahkan kepada satu-satunya Pembebas dan Penyelamat, yakni Yesus,” ungkapnya.
Ia juga melihat bagaimana ajaran tersebut memperkaya praktik budaya Manggarai dalam terang iman Katolik.
Harapan Uskup Labuan Bajo
Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut.
“Pendalaman iman ini sangat membantu umat kami. Kami berharap komunitas Persaudaraan Montligeon dapat hadir di Keuskupan Labuan Bajo sebagai bagian dari gerakan doa bagi keselamatan jiwa-jiwa, terutama mereka yang terlupakan,” ungkap Uskup Labuan Bajo ini.
Kunjungan Pater Paul menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan rohani umat selama masa Prapaskah 2026. Tidak hanya memperkaya pemahaman teologis, tetapi juga memperteguh praktik iman yang hidup, menghubungkan doa, tradisi, dan harapan akan kehidupan kekal.(AD)
Sumber: Komsos Keuskupan Labuan Bajo

Posting Komentar