Berita
Daerah
Nasional
Pelayanan Sosial
Refleksi
Kala Prapaskah dan Ramadhan Bertemu dalam Setetes Darah di Palembang
PALEMBANG, Katolik Terkini – Di bawah langit Palembang yang teduh pada Minggu pagi, 15 Maret 2026, suasana di Gedung Aula Serbaguna Santo Yoseph terasa berbeda. Ada keheningan yang khusyuk, namun ada kesibukan yang hangat. Tahun ini, kalender spiritual mencatat momen langka: umat Katolik sedang meniti jalan sunyi Prapaskah, sementara saudara-saudara Muslim tengah memeluk bulan suci Ramadhan.
Dua masa puasa ini bertemu dalam satu tarikan napas.
Di tengah refleksi iman yang mendalam, Gereja Santo Yoseph Jln Jendral Sudirman 128 C dan Gereja St. Petrus Jln Betawi Raya Kenten Palembang memilih sebuah cara istimewa untuk mewujudkan kasih: melalui kantong-kantong darah yang merah dan penuh kehidupan.
Melawan Kekosongan di Rak PMI
Bagi banyak orang, masa puasa sering kali berarti masa "istirahat" dari aktivitas fisik berat, termasuk donor darah. Akibatnya, stok darah di PMI kerap menyusut tajam. Padahal, penyakit dan kecelakaan tidak mengenal kalender ibadah.
Sadar akan kekosongan tersebut, Bidang Pelayanan DPP Santo Yoseph melalui Seksi Kesehatan menggandeng PMI Kota Palembang. Mereka tidak ingin ada pasien yang harus menunggu cemas karena stok darah yang habis di saat orang-orang sedang fokus beribadah.
"Saat ini banyak orang yang membutuhkan. Apalagi saat masa puasa, stok biasanya terbatas. Maka, aksi seperti ini sangat berarti," ujar dr. Angela M. Leni, Ketua Panitia, dengan nada suara yang tenang namun penuh penekanan.
Perjuangan di Balik Jarum Suntik
Pukul 07.30 WIB, aula sudah mulai dipadati. Dari 65 orang yang mendaftar, terpancar wajah-wajah yang tulus meski mungkin perut mereka sedang kosong karena berpantang. Namun, niat suci tak selalu berjalan mulus. Ada empat orang yang harus pulang dengan rasa kecewa karena tekanan darah mereka terlalu tinggi atau kadar Hb yang rendah.
Bagi 61 pendonor yang berhasil, setetes darah mereka adalah "kado kehidupan".
Di sela-sela proses pengambilan darah, mereka juga mendapatkan cek kesehatan gratis—gula darah, kolesterol, hingga asam urat. Ini adalah bentuk perhatian gereja agar sang pemberi tetap sehat saat memberi.
PMI Kota Palembang pun memberikan catatan kecil namun penting bagi para pahlawan ini: tidur cukup enam jam dan sarapan yang bergizi adalah kunci agar tubuh tetap tangguh saat berbagi.
Lebih dari Sekadar Ritual
Gereja Santo Yoseph di Jalan Jendral Sudirman dan Gereja St. Petrus di Kenten telah membuktikan bahwa Prapaskah bukan hanya soal menahan lapar atau memperbanyak doa di dalam gedung gereja. Prapaskah adalah tentang tangan yang terulur keluar.
Bakti sosial ini adalah jembatan solidaritas. Di saat umat Muslim sedang menjalankan ibadah puasa dengan penuh ketulusan, umat Katolik hadir menjaga ketersediaan darah bagi siapa pun yang membutuhkan—tanpa memandang apa agamanya.
Momen 15 Maret 2026 ini akan dikenang bukan hanya sebagai tanggal di kalender, tetapi sebagai hari di mana kasih mengalir nyata dari lengan-lengan pendonor menuju nadi mereka yang sedang berjuang untuk sembuh. Karena pada akhirnya, di hadapan kemanusiaan, kita semua menggunakan warna darah yang sama.
Kontributor Palembang : Andreas Daris Awalistyo
Via
Berita




Posting Komentar