Antara Tuduhan dan Fakta: Catatan Seorang Pelayan Paroki tentang Mgr Paskalis
Oleh: Y. Tomi Aryanto - Umat Keuskupan bogor
Katolik Terkini - Bapa Uskup Mgr. Paskalis yang kami kasihi dan hormati, sungguh sedih dan prihatin mendengar serta membaca berbagai berita dan pergunjingan yang beredar melalui beragam kanal dan media sosial akhir-akhir ini mengenai Bapa Uskup.
Terlebih lagi, sebagian kabar atau pendapat miring itu datang dari kalangan imam, yang tampaknya diungkapkan secara kurang proporsional dan tanpa mempertimbangkan maslahat yang lebih luas dalam kehidupan bersama yang seharusnya dijaga sebagai persekutuan umat Allah.
Namun, saya tidak akan mengomentari lebih jauh hal tersebut, juga tidak akan menanggapi mereka yang menuliskannya. Yang hendak saya sampaikan di sini adalah apa yang saya lihat, alami, dan rasakan sendiri sebagai bagian dari kawanan domba yang digembalakan oleh Mgr. Paskalis.
Pengalaman saya sebagai umat di sebuah paroki kecil di Depok, yang menjadi bagian dari Keuskupan Sufragan Bogor, memberi kesempatan kepada saya untuk turut melayani, mulai dari Ketua Lingkungan, Wakil Dewan Paroki, hingga belakangan sebagai Wakil Dewan Keuangan Paroki.
Tidak lama setelah dipercaya sebagai Wakil Dewan Paroki, kami menerima kabar bahwa Mgr. Paskalis mencanangkan Sinode Kedua Keuskupan Bogor. Sinode ini merupakan ajakan kepada seluruh umat serta para tertahbis untuk berjalan bersama, merefleksikan kehidupan menggereja yang telah dijalani, sekaligus mendiskusikan visi dan misi pastoral yang perlu dirancang guna menjawab tantangan zaman ke depan.
Rangkaian pertemuan berlangsung secara berjenjang, dimulai dari tingkat lingkungan dan wilayah, kemudian paroki, hingga akhirnya berpuncak pada pertemuan tingkat keuskupan pada Desember 2019 di Wisma Kinasih, Bogor.
Sinode tersebut mengusung tema “Sukacita sebagai Communio yang Injili, Peduli, Cinta Alam, dan Misioner.” Jelas ini merupakan hajatan besar. Di Paroki Santo Matheus, pertemuan yang berlangsung dari pagi hingga misa penutup pada sore menjelang malam itu dihadiri lebih dari 450 umat. Artinya, sekitar sepertiga dari total umat paroki terlibat dalam sinode ini. Gereja, selasar, dan ruang-ruang pertemuan tampak penuh.
Masing-masing peserta aktif berdiskusi mengenai berbagai isu, seperti transformasi, pendidikan, OMK, kelestarian alam, serta kehidupan keluarga. Sebagai pengurus yang relatif baru, saya takjub melihat partisipasi umat, para imam, dan para pelayan lainnya dalam setiap tahapan penyelenggaraan sinode ini.
Beberapa kali saya juga mengikuti pertemuan di paroki lain yang mendapat giliran lebih awal, sekadar untuk mengamati dan belajar agar ketika tiba jadwal di paroki kami, kegiatan dapat berjalan dengan baik, produktif, dan sungguh menghasilkan buah dalam menampung aspirasi umat.
Cerita singkat tentang sinode yang berlangsung sepanjang tahun itu perlu saya sampaikan untuk menggambarkan betapa efektifnya kepemimpinan dan konsistensi Uskup Paskalis dalam menjalankan misi pastoral yang melibatkan para klerus dan partisipasi umat secara luas.
Beberapa tahun kemudian, ketika Paus Fransiskus juga mencanangkan Sinode Para Uskup, rangkaian kegiatan serupa kembali berlangsung dengan semangat yang tak surut. Antusiasme tampak dari para imam dan umat, sementara Uskup Paskalis bersama para anggota Kuria Keuskupan bergiliran hadir dan menyertai kegiatan di berbagai paroki.
Karena itu, saya merasa janggal ketika mendengar tuduhan bahwa Uskup Paskalis kurang memperhatikan misi pastoral di tingkat paroki. Saya sendiri menyaksikan dan berani mengatakan bahwa barangkali Mgr. Paskalis adalah uskup yang paling sering berkeliling menyapa umat melalui kehadiran langsung dalam misa dan berbagai kegiatan pastoral. Tidak jarang pula Bapa Uskup berkenan menginap di paroki, sebuah tanda kedekatan seorang gembala dengan umat yang digembalakannya.
Satu catatan yang menurut saya penting digarisbawahi adalah efektivitas kegiatan pastoral di paroki kami yang ditunjang oleh data umat yang akurat dan mutakhir. Sistem Informasi Umat (Siformat) sebagai metode pencatatan digital yang diterapkan Keuskupan Bogor hingga ke tingkat bawah merupakan aset yang sangat berharga.
Pastor Paroki dan saya sebagai Wakil DPP, dibantu para Ketua Wilayah dan Ketua Lingkungan yang secara berkala memperbarui data, dapat memperoleh gambaran statistik umat secara jelas. Dari sana, kebijakan pastoral dan berbagai keputusan terkait pelayanan maupun pendampingan dapat dirumuskan dengan lebih tepat dan membumi.
Berdasarkan data tersebut, misalnya, saya mengetahui bahwa jumlah umat paroki kami mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar lima persen per tahun dalam lima tahun terakhir. Bahkan pada masa pandemi Covid-19, jumlah umat tetap bertumbuh, baik melalui kelahiran, perpindahan penduduk, maupun baptisan dewasa. Kepemimpinan yang visioner dan terbuka terhadap pemanfaatan teknologi digital memungkinkan hal semacam ini terjadi di Keuskupan Bogor.
Lalu bagaimana dengan isu serius seperti kasus pelecehan seksual dan kejahatan pedofilia yang terjadi di dua paroki di Depok: Santo Matheus dan Santo Herkulanus? Kebetulan saya terlibat dalam penanganan salah satu kasus tersebut sejak awal, ketika dua anak yang mengaku menjadi korban datang ke pastoran pada suatu malam, didampingi oleh pengasuh mereka.
Selanjutnya diadakan pertemuan di Keuskupan Bogor dan diambil berbagai langkah untuk melindungi para korban serta anak-anak panti asuhan tersebut. Dalam proses itu, pada suatu malam, Bapa Uskup sendiri menelepon saya dan memberikan arahan agar penyelamatan anak-anak diutamakan dan dijalankan dengan baik, seiring dengan proses hukum yang berlangsung terhadap bruder yang menjadi tersangka.
Cerita ini penting saya sampaikan karena saya juga mendengar tuduhan yang tidak berdasar bahwa seolah-olah Bapa Uskup tidak cukup aktif menyikapi peristiwa tersebut. Padahal, ketika kasus serupa dengan skala lebih besar terungkap di Paroki Santo Herkulanus, respons Bapa Uskup dapat dengan mudah dilacak melalui berbagai pemberitaan media pada waktu itu, termasuk laporan yang cukup lengkap di Majalah Tempo edisi 20 Agustus 2020.
Saya sebenarnya masih ingin menceritakan lebih banyak lagi. Namun untuk saat ini, kiranya cukup sampai di sini. Pada kesempatan lain, saya akan melanjutkan dengan kesaksian lain yang saya lihat dan ketahui. Setidaknya, tulisan ini dapat memberikan gambaran yang lebih berimbang tentang Mgr. Paskalis yang saya kenal sebagai gembala dan pemimpin kami di Keuskupan Bogor.
Salam hormat saya, Y. Tomi Aryanto

Sebagai umat Bogor, saya meyakini Mgr Paskalis orang saleh yg hidup dalam spiritualitas Fransiskan sejati. Semua tuduhan miring padanya hanya kamuflase para penuduh. Karena mengenalnya sejak 1996, sejak dia menjadi Magister Novis di Depok.
BalasHapus